Kabar Jaksa Agung Tahu Pertemuan Jaksa Pinangki, Boyamin Saiman: Kan Tidak Mungkin Jeruk Makan Jeruk

Koordinator MAKI, Boyamin Saiman-- jawa pos

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Pemeriksaan maraton untuk membongkar skandal suap red notice Djoko Tjandra terus berlangsung. Kemarin polisi memanggil tiga tersangka. Yakni, pengusaha Tommy Sumardi, Irjen Napoleon Bonaparte, dan Brigjen Prasetijo Utomo. Hingga pukul 18.30 tadi malam, pemeriksaan masih berjalan. Pada hari yang sama, kejaksaan agung (kejagung) juga memeriksa Djoko Tjandra.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Awi Setiyono menuturkan, pemeriksaan dimulai sejak pukul 09.00. ’’Saya juga masih menunggu hasil pemeriksaan,’’ terangnya tadi malam. Dalam kasus penghapusan red notice Djoko Tjandra, Tommy diduga berperan sebagai pemberi suap.

Sementara itu, penerima suap diduga adalah Irjen Napoleon Bonaparte yang waktu itu menjabat Kadiv hubungan internasional dan Brigjen Prasetijo yang saat itu adalah Karokorwas PPNS Bareskrim. Dua petinggi Polri tersebut telah dicopot dari jabatannya.

Sumber Jawa Pos menyebutkan, Tommy Sumardi dikenal sebagai pebisnis yang memiliki jaringan dengan petinggi kepolisian.

Sebab, pada masa Orde Baru, Tommy disebut-sebut menjadi intel nonorganik. Karena itu, dalam kasus Djoko Tjandra, Tommy memanfaatkan akses dari Brigjen Prasetijo. ’’Tidak menggunakan akses petinggi lainnya,’’ terangnya.

Tommy juga dikenal memiliki jejaring politik. Dia disebut-sebut kenal dekat dengan mantan Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) yang kini ditahan karena kasus korupsi. ’’Tommy, Setnov, dan Djoko Tjandra saling kenal semua,’’ papar sumber itu.

Terpisah, Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman menuturkan, pihaknya akan melaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dengan kabar yang menyebutkan bahwa pertemuan jaksa Pinangki Sirna Malasari dengan Djoko Tjandra diketahui Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin. ’’Kan disebut dia (Pinangki, Red) video call dengan jaksa agung saat bertemu Djoko Tjandra,’’ jelasnya.

Menurut dia, penanganan kasus itu akan sulit dilakukan jika masih berada di Kejagung. Dia tidak yakin JAM Pidsus berani memeriksa jaksa agung sebagai saksi. ’’Kan tidak mungkin jeruk makan jeruk,’’ sindirnya.

Dia menilai, yang pantas menangani kasus tersebut adalah KPK. Dengan begitu, nama jaksa agung bisa bersih dengan sendirinya apabila memang tidak terlibat. ’’Itulah mengapa harusnya ditangani KPK,’’ ujarnya.Walau Burhanuddin sudah membantah kabar tersebut, Boyamin menilai tetap harus dibuktikan.

Sementara itu, tadi malam Djoko Tjandra dipanggil Kejagung. Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus (JAM Pidsus) Ali Mukartono menyampaikan bahwa pemeriksaan tersebut sesuai rencana. Pemeriksaan Djoko Tjandra hanya sekitar tiga jam. Sedianya Djoko Tjandra akan diperiksa sejak pagi. Namun, dia baru tiba di gedung bundar sekitar pukul 17.40.

Ali menyatakan, pihaknya memeriksa Djoko Tjandra sebagai saksi. ’’(Saksi) Jaksa P (Pinangki, Red),’’ tegas Ali. Banyak hal didalami dalam pemeriksaan kemarin. Termasuk aliran dana dari Djoko Tjandra kepada Pinangki. Dia tidak memerinci apa saja keterangan Djoko Tjandra yang disampaikan kepada Kejagung. Namun, setiap keterangan akan didalami lagi. Disesuaikan dengan keterangan Djoko Tjandra kepada Mabes Polri. ’’Koordinasi dengan Mabes (Polri),’’ ujarnya.

Sebelum diperiksa Kejagung, Senin (24/8) Djoko Tjandra memang diperiksa Mabes Polri. Kepada penyidik Mabes Polri, dia mengakui ada bagi-bagi duit kepada sejumlah pihak. (jpc/fajar)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...