Dokter Reisa Jelaskan Peran Remaja Jadi Pelopor Lawan Stunting di Masa Depan

Dokter Reisa (kanan atas) berbicara soal edukasi pada remaja untuk mengatasi masalah stunting/Zoom Webinar 'Saatnya Remaja Cegah Stunting' (Screenshot Webinar)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Stunting adalah anak balita tubuh kerdil yang menjadi permasalahan di tanah air. Upaya menurunkan angka stunting terus digenjot dengan berbagai program seperti pola asuh, pola makan, dan sanitasi. Anak yang sudah terlanjur stunting, tak bisa untuk diperbaiki lagi kondisinya.

Maka yang harus diintervensi adalah pencegahan di masa depan. Dan, remaja dianggap sebagai pelopor yang mampu melakukannya.

Sebab remaja adalah calon ibu yang akan mengalami fase kehamilan, melahirkan, dan mengasuh buah hatinya. Remaja harus mulai diedukasi sebelum hingga akhirnya memasuki fase pernikahan.

Mengapa remaja dilibatkan? Menurut Program Advocacy and Communications Manager Tanoto Foundation Indiana Basitha, banyak yang menyangka isu stunting hanya untuk orang tua dan pasangan yang sudah menikah.

Padahal stunting adalah sebuah siklus. Jika calon ibu mengalami asupan gizi kurang sejak remaja ia berisiko punya anak kurang gizi dan si anak akan mencontoh pola makan ibunya dan terus berputar.

“Siklusnya dimulai sejak remaja putri. Maka masalah stunting harus jadi awareness sejak remaja agar mereka menjaga asupan gizinya, karena ia adalah calon orang tua,” katanya dalam webinar Saatnya Remaja Cegah Stunting, Rabu (26/8).

Data Riskesdas 2018 menunjukkan, 8,7 persen remaja usia 13-15 tahun dan 8,1 persen remaja usia 16-18 berada dalam kondisi kurus dan sangat kurus.

Komentar

Loading...