Ada yang Janggal dari Penahanan Nelayan Penolak Tambang Pasir

Daeng Manre (tengah)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Mansur Pasang Daeng Manre, 54 tahun, ditahan di Polairud Polda Sulsel. Namun, penahanan itu dianggap janggal oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar.

Penahanan hingga menjadikan nelayan Pulau Kodingareng sebagai tersangka perobek dugaan uang sogokan itu dinilainya cacat prosedur.

Penasihat Hukum Daeng Manre, Edy Kurniawan, mengatakan, atas penangkapan tersebut, seharusnya polisi lebih dahulu melakukan pemanggilan.

“Ditahap penyidikan, seharusnya Daeng Manre ini dipanggil dulu dua kali. Nanti setelah tidak memenuhi panggilan, baru ada upaya yang dilakukan untuk dijemput paksa,” kata Edy, Jumat (28/8/2020).

Daeng Manre ditangkap pasca polisi melakukan penyidikan oleh Direktorat Polairud Polda Sulsel, di Dermaga Kayu Bangkoa, Jalan Pasar Ikan, Kota Makassar, Jumat (14/8/2020) lalu.

“Kita sudah gelar perkara kemarin. Hasilnya bisa ditingkatkan sebagai tersangka. Sudah saya panggil sebagai tersangka tapi tidak memenuhi panggilan kita,” kata Direktur Dit Polairud Polda Sulsel Kombes Pol Hery Wiyanto.

“Uangnya masuk di dalam amplop. Mereka (nelayan) tahu isinya uang lalu dirobek dan melanggar UU mata uang. Ancaman lima tahun penjara bagi perusak,” sambung perwira tiga bunga ini.

Padahal sebelumnya, Manre yang sudah tua mengaku tidak tahu bahwa amplop tersebut berisi uang tunai.

Dia menerima amplop itu usai meninjau pihak perusahaan soal aktivitasnya yang merugikan mata pencaharian para nelayan.

Warga lain yang melihat berteriak agar merobek amplop tersebut, yang diduga uang pelicin dari perusahaan tersebut.

“Warga teriak robek itu amplop. Akhirnya saya datang ke situ robek itu. Saya tidak tahu apa isinya itu amplop dan saya tidak ada niat mau lecehkan mata uang negara,” kata Manre, di kantor LBH Makassar, sebelum ditangkap. (ishak/fajar)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...