Pengadaan Gawai Gunakan Dana BOS, Pengamat: Gurunya Makan Apa?

Ilustrasi: Empat anak SD saat menjalani MPLS, Senin (13/7). ((Puput Yusda Apriliana for Jawa Pos))

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah merelaksasi Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Salah satunya bisa digunakan untuk pengadaan gawai peserta didik.

Namun, menurut Pengamat dan Praktisi Pendidikan Indra Charismiadji, hal itu membuat pengelola dana di satuan pendidikan menjadi bingung. Apalagi, Dana BOS ini dari awal sudah memiliki ruang penggunaannya masing-masing.

“Dana BOS itu kan bukan duit baru dikasih, bukan artinya tiba-tiba ada Covid dan dikasih Dana BOS, dari 2006 Dana BOS itu sudah mengalir dan sudah ada pos-posnya kan, ada bayar guru honorer, bayar listrik, itu kan sudah disebut dengan anggaran rutin, jadi ngga semudah itu juga anggaran rutin tiba-tiba dipakai buat beli gawai,” jelas dia kepada JawaPos.com, Jumat (28/8).

Meskipun diberikan fleksibilitas penggunaannya, di mana sesuai dengan konsep Merdeka Belajar. Menurut, dia harus tetap ada panduannya agar tidak membingungkan.

“Dari sisi itu oke, tapi nanti beli gawai, gurunya ngga digaji, gurunya makan apa, listrik sekolah ngga dibayar, gimana caranya (mengatasi masalah baru),” tambahnya.

Dana BOS Afirmasi dan Kinerja juga rasanya tidak akan membantu, karena dana tersebut juga memiliki koridornya. Jadi, baiknya untuk pengadaan gawai, pemerintah lebih baik memisahkan anggaran dengan membuat Dana BOS Khusus Covid-19.

“Tapi ini (Dana BOS) bukan sebuah tambahan, jadi kalau beda, misalnya Kemendikbud mengelurakan BOS Covid, beda sama reguler. Jadi tambahan itu baru leluasa, tapi kalau BOS reguler. Kebanyakan jadi pusing, emang sekolah ngga pusing, orang tua minta dibeliin pulsa,” ungkap dia.

Komentar

Loading...