Penantang Berpotensi Kejutkan Delapan Petahana di Pilkada

ILUSTRASI

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR– Ketatnya perebutan partai dan dukungan akar rumput akan terus menggeliat. Munculnya penantang diproyeksi akan memberikan kejutan bahkan berpotensi menumbangkan petahana.

Tercatat setidaknya ada delapan dari 12 daerah bupati petahana kembali maju untuk kedua kalinya. Tetapi, tidak menjamin majunya bupati petahana bisa mulus. Apalagi jika yang lawannya adalah wakil bupati yang berpaket sebelumnya.

Seperti Pilkada Luwu Timur. Diproyeksi akan terjadi pertarungan sengit. Pasangan bupati dan wakil bupati di periode pertama Thoriq Husler dan Irwan Bachri Syam pecah kongsi. Sama-sama maju di Pilkada. Kemungkinan besar head to head.

Pasangan Irwan Bachri-Andi Muh Rio bisa muncul dengan kejutan. Dari latar belakang, strategi Irwan menggandeng Andi Rio bisa jadi amunisi kuat. Sebab, Rio merupakan anak Hatta Marakarma. Mantan bupati Lutim dua periode.

Hatta mampu menjaga basis massa yang dibuktikan dengan mampu bertarung untuk lolos sebagai anggota DPRD Sulsel dari fraksi Golkar.

Bakal calon bupati Lutim, Irwan Bachri mengakui akan berjuang seoptimal mungkin untuk dapat menumbangkan petahana. Pihaknya mengaku punya strategi yang sudah disiapkan matang untuk bertarung.

“Strategi tentu disiapkan, termasuk terus menguatkan akar rumput yang menjadi basis yang kuat bagi kami,” bebernya.

“Saya tentu tak asal pilih, ada kelebihan yang dimiliki Rio sehingga saya memilihnya untuk menarik suara,” tegasnya.

Sama dengan Lutim. Di Lutra juga terjadi pecah kongsi antara bupati Indah Putri Indriani dan Thahar Rum. Selain Thahar juga ada kandidat lain yang akan ikut bertarung di Pilkada Lutra yakni Arsyad.

Bakal calon bupati Lutra, Muh. Thahar Rum menyampaikan keinginannya maju sebagai bupati karena dirinya ingin naik kelas dan berharap bisa berbuat lebih banyak untuk membangun di daerahnya.

“Setiap warga negara kan diberikan kesempatan yang sama untuk menjadi kepala daerah, saya ingin memanfaatkan kesempatan itu,” bebernya.

Bakal calon bupati Lutra, Arsyad menyampaikan dirinya bukan orang baru di Pilkada Lutra. Sebelumnya ia pernah maju dan bertarung di Pilkada Lutra 2010 dan 2015 hanya saja belum mampu menang.

Tetapi, Ketua Gerindra Luwu Utara ini optimis kali ini punya potensi besar bahkan bisa jadi ”kuda hitam” untuk menumbangkan petahana. Ia mengaku kali ini timnya lebih siap dan belajar dari dua pilkada sebelumnya.

“Kemarin kami kalah hanya pada persoalan kesiapan tim. Seperti saksi. Hampir di setiap TPS kami tak ada. Karena memang persiapannya hanya 4-5 bulan saja, tetapi kali ini saya lebih optimis,” bebernya.

Di Toraja Utara, Kalatiku Paembonan petahana yang harus bercerai dengan wakilnya Yosia Rinto Kadang untuk jadi penantangnya di pilkada mendatang. Meski tak lagi bersama Rinto, Kalatiku yang berpasangan Etha Rimba masih kuat.

Usungan PDIP (4 kursi), Gerindra (4 kursi) , PKPI (2 kursi) dan Perindo (2 kursi) ini dianggap kukuh karena prestasi yang ditorehkan selama jadi bupati cukup signifikan. Meski begitu, Yosia Rinto bersama Yonathan tak bisa dipandang remeh.

Kekuatannya selaku ketua DPD Nasdem yang berhasil menjadi pemenang pemilu 2019 di Torut, yang sekaligus mengantarkan istrinya Stevany Rataba duduk sebagai anggota DPR RI bisa saja merontokkan posisi petahana.

Pendatang baru, Yohanis Bassang mantan wabup Timika yang berpasangan dengan Frederik Victor Palimbong yang diusung partai Golkardan dan Demokrat ini pun jadi momok jadi kuda hitam yang bisa jadi lawan berat kedua pasangan diatas.

Santer dengan amunisi kantong yang tebal duet Bassang – Frederik ini dengan mudah bisa meraih dan menggalang dukungan dan menyalip keduanya.

“Untuk apa kami bertarung, jika hanya mau kalah. Kami siap bertarung,” beber pria yang akrab disapa Om Bas ini.

Pihaknya juga sesumbar punya pengalaman berharga dan bisa menjadi strategi untuk bisa mengalahkan dua kandidat lainnya di Pilkada 9 Desember mendatang.

“Saya pernah menjadi wakil bupati Mimika. Memenangkan pertarungan di daerah lain saya mampu, tentu di daerah sendiri membuat saya semakin optimis,” jelasnya.

Pilkada Tana Toraja tercatat ada tiga bakal calon bupati. Nicodemus Biringkanae-Victor Datuan Batara dengan dukungan partai Nasdem denam kursi, Golkar (7 kursi), Perindo (1 kursi).

Lalu, Theofilius Allorerung – Zadrak Tombeg dengan dukungan partai Demokrat (4 kursi). Terakhir Albert Patarru-Jhon Diplomasi yang didukung partai Hanura (3 kursi), Berkarya (1 kursi), PDIP (5 kursi).

Pasangan Nicodemus Biringkanae – Victor Datua Batara, kembali maju pada Pilkada Toraja 2020 patut khawatir. Sebab, lawannya kali ini adalah mantan Bupati Toraja yang pernah dikalahkannya pada Pilkada 2016 lalu. Kali ini, Theofilus Allorerung akan berpasangan dengan Zadrak Tombeq. Bukan Yohanis. Adapun Zadrak sendiri, merupakan calon bupati di pilkada 2016 lalu.

Terlebih, sejauh ini pendatang baru, yakni Albertus Patarru – Jhon Diplomasi, usungan partai PDIP (5 kursi) dan Hanura (3 kursi) juga lebih memilih Theofilus-Zadrak sebagai pemenang dibandingkan dengan petahana (Nivi).

Albert Patarru memiliki rekam jejak dalam mengelola BUMN. Dia pernah tercatat sebagai Direktur Komersial di PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (DKB).

“Saya maju tentu optimis. Salah satunya bisa dilihat dari 7 petahana yang maju dan didukung PDIP, saya satu-satunya yang didukung PDIP bukan petahana. Artinya saya punya kelebihan yang dilihat PDIP,” paparnya.

Di Pilkada Barru, berpotensi diikuti tiga kandidat. Petahana, Suardi Saleh-Andi Mirza Riogi yang didukung Nasdem (5 kursi), PDIP (3 kursi), Demokrat (1 kursi), PKS (2 kursi).

Lalu, pasangan Malkan Amin-Andi Salahuddin Rum yang didukung Golkar (5 kursi), Gerindra (3 kursi) dan pasangan calon Mudassir Hasri Gani-Aksah Kasim yang didukung PKB (5 kursi).

Ketua Tim Pemenangan Malkan-Salahuddin, Herman Agus mengatakan, kali ini pihaknya lebih siap bertarung melawan paslon Suardi Saleh- Andi Mirza Riogi. Pihaknya yakin, strategi pemenangan telah disusun dengan baik dan dipastikan tidaklah sama pada 2015 lalu. Tim pemenangan 2020 ini lebih kompleks.

“Sekarang lebih hebat dan kuat karena para pendukung Andi Idris dan pendukung Andi Anwar pada 2015 lalu pindah mendukung Malkan,” kuncinya.

Pengamat Politik Unhas, Andi Ali Armunanto menganggap sejumlah nama ini memang berpotensi sebagai kuda hitam. Mengingat dari semua petarung di daerahnya, hanya Paslon tersebut yang kurang populer. “Jadi nama-nama yang tidak populer ini, tidak bisa dipandang enteng,” jelasnya.

Pertama, kata dia, lawan tidak akan bisa mengukur kekuatan mereka. Entah kekuatan jaringan politik atau kekuatan ekonominya. “Itu yang kadang-kadang tidak bisa diprediksi, sehingga langkah-langkahnya tidak bisa diantisipasi oleh pasangan yang sudah populer duluan,” ucapnya.

Bagi pasangan calon yang akan menghadapi paket kuda hitam, Anto menyarankan agar mereka mampu mempertahankan basis suaranya. Dikarenakan pergerakannya sulit terbaca.

“Biasanya kandidat populer menganggap basis loyal tak diperhatikan lagi. Padahal pergerakan itu dinamis. Dalam semalam, itu bisa saja terjadi,” bebernya.

Senada dengan Ali, pengamat politik Unhas, Andi Lukman Irwan menyatakan, potensi penantang untuk membuat kejutan di sejumlah daerah pilkada sangat besar.

Sepanjang penantang mampu melakukan konsolidasi jejaring partai dan relawan di semua tingkatan dan disertai pendekatan kampanye secara massif.

“Bisa dengan mengkapitalisasi kegagalan-kegagalan program dari incumbent selama 5 tahun kepemimpinannya. Itu senjata yang jadi potensi untuk menumbangkan petahana,” jelasnya.

Lukman juga menambahkan, kegagalan banyak petahana terutama pada 2018 lalu terjadi karena para kepala daerah terlalu abai dan menikmati kekuasaan.

Secara teori, calon kepala daerah petahana seharusnya mendapatkan privelege di pilkada karena mereka memiliki waktu kampanye yang lebih panjang dibanding para penantang. Biasanya kekalahan petahana karena tidak mampu membangun citra politik berupa kebijakan-kebijakan yang membangun citra positif selama lima tahun memimpin.

“Peluang-peluang seperti ini harus mampu dimanfaatkan dengan baik oleh para penantang sebagai celah politik untuk mengkapitalisasi personality penantang sehingga pemilih akan memandang penantang sbg alternatif solusi untuk pilihan politik mereka,” imbuhnya. (fkt-rus-sua-shd/abg/fajar)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...