Sekolah 5.0

dr. Dito Anurogo, M.Sc

Oleh: dr Dito Anurogo MSc

“Jadikan setiap orang sebagai guru dan setiap rumah sebagai sekolah.”

(Ki Hajar Dewantara)

Era revolusi industri 4.0 ditandai dengan perubahan di multisektor kehidupan. Dampaknya, 75-375 juta tenaga kerja global beralih profesi. Ancaman disrupsi pun menghantui semua negeri. Era disrupsi teknologi, gabungan antara domain biologi, digital, fisik (Schwab, WEF, 2017). Indonesia perlu meningkatkan kompetensi tenaga kerja dengan teknologi digital (Parray, ILO, 2017).

Salah satu strategi efektif pencegahan disrupsi ini adalah melalui edukasi futuristik. Sekolah 5.0 merupakan salah satu solusinya. Sekolah futuristik ini memberikan minimal sepuluh keterampilan sebagai bekal siswa untuk menghadapi era revolusi industri. Misalnya: pemecahan masalah kompleks (complex problem solving), berpikir kritis, kreativitas, penilaian dan pengambilan keputusan, berorientasi pelayanan, negosiasi, fleksibiltas kognitif, kecerdasan emosi, koordinasi-kolaborasi dengan sesama, dan manajemen SDM-SDA. Untuk mengimplementasikan semua keterampilan futuristik itu, diperlukan kurikulum yang unik, futuristik, komprehensif, dan berkesinambungan.

Kurikulum 5.0

Sekolah masa depan memiliki kurikulum yang berbasis pada kecerdasan dan potensi individu. Kurikulum ini adalah kurikulum yang mendidik, memberdayakan, menumbuhkembangkan, menyehatkan, membahagiakan, mencerahkan, sekaligus mensejahterakan. Istilah ilmiahnya adalah kurikulum yang berbasis multieduhealthtainment 5.0. Edukasi yang berbasis pada multiple intelligence dan multi-lintas disipliner, kesehatan, dan kebahagiaan.    

Maksudnya, kurikulum boleh saja berbasis teknologi futuristik, seperti: big data, Artificial Intelligence (AI), Internet of things (IoT), jaringan nirkabel 5G, drone, nanoteknologi, cloud computing, deep-machine learning, augmented reality, dan teknologi canggih lainnya, namun kurikulum tersebut juga berbasis pada Pancasila dan UUD 1945, kitab suci, alam, budaya, kearifan lokal, kewirausahaan, dan potensi diri. Hal terpenting, kurikulum 5.0 ini haruslah kurikulum yang membahagiakan serta mensejahterakan semuanya, baik pendidik, siswa, orangtua, masyarakat. Sebab kebahagiaan itu adalah esensi pendidikan dan pondasi dasar kejeniusan. Ini tantangan dan peluang besar bagi para pembuat serta pemangku kebijakan, mengingat di Indonesia terdapat 501.623 satuan pendidikan, berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hingga bulan Februari 2019.

Komentar

Loading...