100 Dokter Meninggal, Pakar Kesehatan: Cerminkan Tak Kuatnya Lini Depan Kita Hadapi Covid-19

ILUSTRASI. Pada Kamis (23/7), dalam 24 jam terakhir kasus positif bertambah 1.906 orang. Sehingga totalnya kini sudah sebanyak 93.657 orang dinyatakan positif Covid-19. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Sudah 100 dokter di Indonesia meninggal karena Covid-19 sesuai data Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Mirisnya lagi, angka kasus baru positif Covid-19 terus bertambah dengan semakin membebani para dokter dan tenaga medis. Sulitnya, masyarakat kini semakin acuh dan abai dengan protokol kesehatan.

Pakar Kesehatan dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dr. Hermawan Saputra menjelaskan pihak yang semestinya berada di garda terdepan seharusnya adalah masyarakat. Manajemen kesehatan berbasis masyarakat penting untuk diterapkan.

“Gambaran banyaknya dokter yang meninggal mencerminkan tak kuatnya lini depan kita hadapi Covid-19. Terutama dalam mitigasi dan pencegahan,” tegasnya kepada JawaPos.com, Selasa (1/9).

“Pengendalian itu kan dari masyarakat sendiri dan didampingi ahli kesehatan masyarakat dan epidemolog. Karena soal kesehatan itu sifatnya personal, protokol hygiene itu sangat personal, dari individu masing-masing,” tegasnya.

Menurut dr. Hermawan, masyarakat belum berperan dalam memperjuangkan kepedulian ini. Ketika dokter berguguran, kata dia, artinya garda terdepannya sudah sangat rapuh.

“Masyarakat belum jadi arus utama community based. First aid harusnya ada kepedulian kolektif. Orang bergejala harus bersama isolasi mandiri. Kebersihan lingkungan dijaga. RT RW dan desa harus powerful dalam menjaga Community Based,” katanya.

Hanya saja, kata dia, pemerintah dan juga stakeholder belum menjadikan masyarakat sebagai arus utama pencegahan, baru berupa penegakkan individu. “Maka para nakes terpapar meninggal dunia itu jadi benteng terakhir di lini belakang. Kalau sudah jebol, artinya rapuh tentara di lapangan,” tegasnya.

Komentar

Loading...