100 Dokter Meninggal, Mufida: Ini Sudah Alarm Tsunami

Ilustrasi - Pasien Covid-19 meninggal. Foto: Antara/Rahmad/pras/20

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Anggota Komisi IX DPR Kurniasih Mufidayati mengaku sangat terpukul dan berduka cita atas wafatnya 100 dokter di Indonesia akibat Covid-19. Karena baginya para tenaga kesehata itu adalah pahlawan di tengah pandemi.

Mufida mengatakan, meninggalnya dokter dan tenaga kesehatan adalah kehilangan aset besar saat bangsa ini masih berjibaku melawan Pandemi Covid-19.

Menurut data dari Pandemic Talks, Indeks Pengaruh Kematian Nakes (IPKN) karena Covid-19 di Indonesia mencapai 223, yang berarti memiliki dampak kematian nakes terburuk di dunia.

“Ini bukan alarm kebakaran lagi, ini sudah alarm tsunami. Semua komponen bangsa harus bangun dari zona amannya, bahwa seolah kita tidak apa-apa. Bahwa ekonomi jauh lebih penting dari kesehatan,” ujar Mufida kepada wartawan, Rabu (2/9).

Mufida juga mengingatkan saat ini daya tampung rumah sakit untuk menangani pasien Covid-19 sudah penuh. Jakarta merilis per Jumat 28 Agustus 2020 kapasitas ruang isolasi dan ICU di RS rujukan sudah terisi 70 persen.

“Dokter dan perawat terus berguguran dan kapasitas ruang perawatan Covid hampir 100 persen penuh. Bisa dibayangkan apa yang selanjutnya terjadi? Italia yang pada awalnya sangat tinggi korban Covid 19, saat sudah berangsur turun, tapi kita masih terus menanjak,” katanya.

Mufida meminta harus ada langkah yang cukup revolusioner dan eksponensial dari pemerintah agar jumlah konfirmasi positif Covid-19 dan angka kematian karena Covid 19, menurun.

Komentar

Loading...