Kritik Pemerintah, Arief Poyuono Tuding Faisal Basri Ngawur

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri-- jawa pos

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pola pikir ekonom yang kurang bijak dalam berpandangan tentang perekonomian nasional yang dilakukan oleh Ekonom Faisal Basri, dengan terus menciptakan sentimen-sentimen yang mendegradasi pemerintah Jokowi yang sedang jungkir balik untuk menyelamatkan masyarakat di era Covid-19. Pernyataan ini disampaikan Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Arief Poyuono.

Arief secara tegas menilai kritikan Faisal Basri yang menyebut Meko Perekonomian Airlangga kurang pemahaman mengenai resesi, sangat tidak relevan dengan semangat dan kerja keras yang terus dibangun. Narasi yang dibangun tidak memberikan terobosan melainkan statmen negatif yang bermakna ganda.

”Faisal Basri seorang ekonom. Ia menilai Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto sebagai komandan ekonomi di Tanah Air tidak paham mengenai resesi. Terang saja ini ngawur. Faisal kurang lihai dalam membaca indikator ekonomi. Ah, ekonom kok stetment-nya mirip kompor meleduk!” tandas Arief kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Rabu (2/9).

Ya, sebelumnya Faisal Basri melemparkan kritik pedas. Bahkan dirinya menilai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud MD mampu membaca konteks resesi ketimbang Airlangga yang juga menjabat Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi.

”Kata Airlangga kalau minusnya turun enggak resesi, ya enggak ada itu. Itu ketua komite kebijakan. Mahfud MD kemarin bilang 99,9 persen resesi, dia bukan menteri ekonomi, tapi lebih tepat,” terangnya, Senin (31/8).

Faisal mengatakan, jika melihat secara definisi di buku-buku yang ada, resesi terjadi jika tingkat output untuk Produk Domestik Bruto (PDB) turun selama beberapa waktu tertentu, bisa beberapa bulan maupun tahun.

Menurutnya, itu tidak berkaitan dengan besaran negatifnya. Maka, katanya, jika ekonomi kuartal III-2020 terkontraksi atau minus maka sudah dikatakan resesi karena ekonomi Indonesia kuartal II-2020 sudah minus 5,32 persen.

”Menko aja pemahaman resesinya nol besar. Kata menko kalau Kuartal II 5,3 minusnya, Kuartal III minus 5 itu enggak resesi, karena minusnya turun, ngeri enggak? Komandan ekonominya enggak ngerti resesi apa,” tandasnya.

Sementara menurut Arief, jika kwartal III banyak yang memprediksi indeks pertumbuhan ekonomi antara 2-4 persenan. ”Nah artinya ada pertumbuhan ekonomi dong,” timpal Arief.

Dan ini bisa jadi, lanjut dia, sebuah optimisme bahwa perekonomian di era Covid mulai menunjukan harapan untuk bangkit. Ini ditandai dengan mulai tumbuhnya lapangan kerja baru, serta peningkatan belanja pemerintah, konsumsi masyarakat dan meningkatnya angka ekspor.

”Jadi sudah benar kata kata Pak Menko perekonomian dong. Daripada omongan Faisal Basri sang ekonom itu,” pungkasnya. (fin)

KONTEN BERSPONSOR

Komentar