Kader Risma Jadi Cawali Surabaya, Machfud Konsolidasi 8 Partai Pengusung

Kamis, 3 September 2020 11:35
Belum ada gambar

Pilwalkot Surabaya

FAJAR.CO.ID, SURABAYA — Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Surabaya 2020 hanya akan diikuti dua pasangan calon (paslon). Eri Cahyadi-Armuji yang telah mendapatkan rekomendasi dari DPP PDIP kemarin (2/9) akan melawan Machfud Arifin (MA)-Mujiaman Sukirno. Mereka diusung delapan partai politik, yakni Gerindra, Nasdem, PKB, PAN, PPP, PKS, Demokrat, dan Golkar.

Kalkulasi secara matematis, perolehan PDIP di DPRD Surabaya 15 kursi. Mereka mengumpulkan total 418.873 suara pada Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 2019.

Sedangkan delapan partai itu meraih 853.443 suara dan 31 kursi dewan. Tentu saja perhitungan tersebut hanya di atas kertas. Untuk mengukur dukungan parpol kepada paslon.

Tidak bisa diasumsikan, paslon yang didukung banyak parpol bakal menjadi pemenang pilkada. Sebab, dalam pilkada langsung, faktor paslon adalah penentu utama.

Hingga kemarin tinggal PSI (4 kursi DPRD) yang belum resmi menentukan pilihan. Namun, santer terdengar, mereka akan merapat ke PDIP dan mendukung Eri-Armuji.

Pasangan MA-Mujiaman memang muncul lebih awal. Rekomendasi delapan partai diberikan secara maraton sampai akhir Agustus.

Meski demikian, Eri dan Armuji bukan orang baru di Surabaya. Kiprah mereka sudah tampak sejak lama. Maklum, Eri mengawali karir PNS di Pemkot Surabaya.

Sedangkan Armuji telah menjadi anggota DPRD Surabaya sejak 2002. Saat ini mantan ketua DPRD Surabaya itu menjabat anggota DPRD Jatim.

Seusai pembacaan rekomendasi, kegiatan beralih ke deklarasi di Taman Harmoni, Keputih. Eri dan Armuji hadir dalam deklarasi yang lebih banyak dihadiri awak media itu. Eri menyatakan siap berkolaborasi dengan Armuji.

Dia menyebut akan saling melengkapi satu sama lain. ”Kalau dalam bahasa Jawa ada Tut Wuri Handayani, yang muda di depan ada pendorong pemberi semangat. Ada Pak Armuji di sana,” ujar Eri.

Eri berjanji menjaga kepercayaan DPP PDIP. Lewat kerja keras. Melanjutkan pembangunan Surabaya. “Bekerja untuk wong cilik. Seperti pemimpin sebelumnya. Pak Bambang D.H. dan Ibu Tri Rismaharini,” terangnya.

Menurut dia, platform perjuangan PDIP segaris dengan program pemkot selama ini. Yaitu, menyejahterakan seluruh warga. Pemkot memberikan permakanan. Ikut memperhatikan kader posyandu dan kader lingkungan. “Ini menunjukkan pemkot berpihak pada wong cilik,” tegasnya.

Di masa pandemi, pemkot tidak berdiam diri. Namun, ikut hadir meringankan beban warga. Dengan cara menggalakkan langkah preventif, promotif, serta kuratif. Agar virus korona tidak semakin merebak. Perekonomian juga menjadi perhatian. Pemkot membantu warga. Lewat pemberian bantuan sosial berupa sembako.

Lantas apa program kerja yang harus dilanjutkan? Menurut dia, pembangunan Surabaya tidak bisa berhenti. Contohnya, pembangunan JLLT dan JLLB.

Pengerjaan dua akses tersebut harus berjalan. Program sosial juga menempati posisi penting. Pria 43 tahun itu berfokus menuntaskan sejumlah persoalan. Antara lain, pengangguran, menekan angka putus sekolah, serta menanggulangi kemiskinan.

Eri juga menyatakan sudah mengajukan surat pengunduran diri dari jabatannya di pemkot. ’’Hari ini juga saya sampaikan juga ke Bu Risma dan DPRD. Insya Allah mulai besok sudah tidak berkantor di pemkot,” jelas Eri.

Kendati bukan kader PDIP, Eri mengaku secara otomatis sudah menjadi bagian dari PDIP setelah mendapat rekom sebagai cawali.

Sementara itu, Armuji menjelaskan bahwa tugas berat sudah menanti. Yaitu melanjutkan pembangunan pada masa Risma. “Pembangunan Surabaya harus berkelanjutan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menjelaskan bahwa pemilihan Eri didasari kaderisasi kepemimpinan yang baik oleh Tri Rismaharini. ”Saya dapat informasi bahwa Eri telah lama mempersiapkan diri,” ucapnya seusai pengumuman kemarin.

Keberhasilan Risma dan Armuji yang sebelumnya juga aktif sebagai ketua DPRD Surabaya akan menjadi modal sosial PDIP untuk memenangkan paslonnya. Hasto menjamin tidak ada lagi kubu yang berbeda. ”Pemenangan kami hanya punya satu strategi, yakni gotong royong. Semua bergerak,” tegasnya.

Konsolidasi MA-Mujiaman

Miratul Mukminin, ketua tim pemenangan MA-Mujiaman, menyatakan sudah memprediksi sosok yang bakal diusung PDIP.Bagi dirinya dan seluruh pendukung MA-Mujiaman, hal itu tidak berpengaruh karena pihaknya telah melakukan persiapan untuk pemenangan MA-Mujiaman sejak jauh hari.

Karena itu, mesin partai, relawan, maupun unsur pendukung lain sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi siapa pun calon dari kubu seberang.

Menurut Mukminin, delapan partai pengusung itu tidak sebatas di atas kertas. Semua pimpinan partai sudah berkomitmen untuk bersama-sama memenangkan pasangan MA-Mujiaman.”Dengan modal 31 kursi di parlemen dan suara pemilih yang mencapai 800 ribu, insya Allah kami akan berjuang sungguh-sungguh untuk kemenangan MA-Mujiaman,” tegasnya.

Pria yang akrab disapa Gus Amik tersebut juga mengapresiasi sikap Mujiaman yang tidak mau bertemu dengan pimpinan partai sebelum statusnya sebagai pimpinan BUMD benar-benar lepas.

Karena itu, konsolidasi baru digelar kemarin dengan empat partai. Sebab, SK wali kota yang memberhentikan Mujiaman secara terhormat baru keluar Selasa (1/9).

”Kami tetap mengedepankan etika berpolitik. Beliau (Mujiaman, Red) sangat memahami hal itu. Itu adalah sikap yang menunjukkan integritas,” tuturnya.

Setelah konsolidasi dengan partai koalisi, Gus Amik mengaku akan menggelar sosialisasi hingga tingkat RT/RW. Harapannya, MA-Mujiaman bisa mendapatkan suara maksimal dalam pilwali yang digelar Desember mendatang.

”Bagaimanapun, Surabaya butuh sosok pemimpin yang visioner, yang bisa membawa perubahan ke arah lebih baik. MA-Mujiaman dianggap sebagai solusi untuk berbagai problem di Surabaya,” ucapnya. (jpc)

Bagikan berita ini:
6
6
5
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar