Bantah Lakukan Pengusiran, Masyarakat Kodingareng minta WALHI Tak Tinggalkan Pulau

Warga Kodingareng saat melakukan demo di Kantor Gubernur Sulsel

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Beberapa hari yang lalu, puluhan pemuda berunjuk rasa di beberapa titik di Kota Makassar, yakni di bawah Fly over dan Gedung DPRD Provinsi Sulawesi Selatan.

Dalam Aksi tersebut, Aliansi Gerakan Mahasiswa Pulau (GEMPA) menyampaikan tuntutannya dengan spanduk bertuliskan ‘Save Sangkarrang, Usir WALHI dari Pulau’. Menurut pengakuan mereka, ini merupakan suara masyarakat Pulau.

Menanggapi hal tersebut, beberapa nelayan dan pemuda Pulau Kodingareng yang menjadi masyarakat dampingan Aliansi Selamatkan Pesisir (ASP), di mana WALHI Sulawesi Selatan termasuk di dalamnya, ikut bersuara terkait aksi yang dilakukan oleh aliansi GEMPA.

Sukri nelayan Pulau kodiangareng menuturkan bahwa aksi yang dilakukan oleh aliansi GEMPA tidak berdasarkan hasil musyawarah masyarakat, jadi tolong jangan bersikap sendiri dan mengatasnamakan kami (masyarakat).

“Yang kami tahu mahasiswa yang ada dipulau (ASP) datang kesini untuk membantu masyarakat mempertahankan tempa pemancingan kami,”ujarnya, Jumat (4/9/2020).

Terpisah, Ica, perempuan pulau kodingareng yang turut aktif terlibat dalam menolak aktifitas tambang pasir laut memberi penjelasan bahwa WALHI/ASP selama ini datang untuk membantu mayarakat, jadi kalau bukan masyarakat pulau yang meminta tidak perlu meninggalkan pulau.

“Selain itu, demo mahasiswa (aliansi GEMPA) bukan suara masyarakat pulau disini, kalau memang mahasiswa mau demo untuk usir WALHI mereka harusnya datang ke pulau,” paparnya.

Komentar

Loading...