Ramuan di Afghanistan Diklaim Sembuhkan Covid-19, Kementerian: Itu Campuran Narkotika

Mohammad Zaman mengaku pulih dari Covid-19 usai mengonsumsi obat herbal dari Hakim Alokozai (Ali M Latifi/Al Jazeera)

FAJAR.CO.ID — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menegaskan bahwa penyakit Covid-19 belum ada obatnya. Sementara, saat ini vaksin tengah diuji klinis di sejumlah negara. Hanya saja, kabar terkait obat herbal yang diklaim bisa menyembuhkan Covid-19 terus bermunculan.

Setelah di Indonesia ramai klaim dari Hadi Pranoto yang memiliki ramuan obat Covid-19, di Afghanistan juga tengah viral seorang ahli herbal yang mengklaim memiliki obat Covid-19.

Bahkan, salah seorang warga bernama Mohammad Zaman kepada Al Jazeera mengaku bisa sembuh setelah mengonsumsi obat herbal dari ahli herbal bernama Hakim Alokozai yang mengklaim memiliki obat Covid-19. Zaman sendiri melakukan perjalanan 335 km melewati pos pemeriksaan Taliban dan jalan panjang tak beraspal untuk mencapai Kabul. Itu dilakukan untuk mendapatkan beberapa botol cairan yang dia yakini akan menyembuhkan Covid-19.

Zaman mengklaim bahwa dia sembuh dari Covid-19 bulan lalu setelah mengonsumsi cairan herbal yang diberikan oleh Alokozai yang bermukim di Kabul. Pria berusia 50 tahun itu datang ke Kabul dari Kunduz bersama 12 orang lainnya dengan harapan dapat memberikan obat tersebut kepada ratusan orang yang masih menderita penyakit Covid-19.

“Saya sakit selama lebih dari sebulan. Saya hampir tidak bisa bernapas. Dalam 10 hari setelah menggunakan cairan herbal, semua gejala hilang,” ungkap Zaman.

Seperti halnya warga Afghanistan lainnya, Zaman dan keluarganya menderita apa yang mereka yakini sebagai Covid-19 tanpa harus pergi ke rumah sakit. Awalnya Zaman dan keluarganya minum obat penghilang rasa sakit, buah, dan obat flu biasa.

“Kami mencoba segalanya, tidak ada yang berhasil sampai kami memutuskan cairan herbal dari Alokozai,” imbuh Zaman.

Alokozai yang mengklaim sebagai pencipta obat herbal itu berasal dari provinsi selatan Kandahar. Dia mengatakan Zaman adalah contoh nyata bagaimana cairan herbal miliknya, yang belum pernah melalui uji klinis resmi, mampu menyembuhkan penyakit Covid-19.

“Setiap orang yang kami berikan obat itu akan membagikannya untuk 50, 100 atau bahkan lebih di komunitas mereka,” sebut Alokozai. Namun, dia tidak memiliki bukti atas klaimnya tersebut.

Jumlah positif Covid-19 di Afghanistan berdasar Worldomerters per Jumat (4/9) sebanyak 38.288 kasus. Angka kematian 1.409 jiwa. Namun, para ahli mengatakan jumlahnya mungkin jauh lebih tinggi dari yang dilaporkan.

Orang-orang pada umumnya menghindari pergi ke rumah sakit yang dikelola pemerintah dan swasta karena khawatir bahwa kepadatan yang berlebihan dan kurangnya sanitasi yang layak hanya akan membuat mereka semakin sakit. Pada awal wabah, hanya ada sedikit fasilitas yang mampu mendiagnosis penyakit dengan benar di setiap provinsi, tetapi pada pertengahan Juni, Kementerian Kesehatan Masyarakat mengizinkan semua lembaga swasta untuk membeli alat penguji Covid-19.

Bulan lalu, Pemimpin Ombudsman Afghanistan, Ghizaal Haress, mengatakan negara itu memiliki 372 ventilator. Namun, di banyak provinsi, staf rumah sakit kurang pelatihan yang tepat dalam penggunaannya.

Kurangnya bantuan kelembagaan di negara yang terkenal dengan infrastruktur kesehatannya yang bobrok dan diperparah oleh perang selama lebih dari dua dekade membuat warga Afghanistan memilih cara lain dalam pengobatan. Salah satunya percaya pada ahli herbal seperti Alokozai. Padahal, Alokozai menurut pejabat kesehatan tidak lebih dari seorang penjual minyak ular.

Tak ingin makin membuat warga Afghanistan makin percaya obat herbal yang diklaim Alokozai, pemerintah setempat pada Juni lalu lewat kementerian kesehatan meminta penangkapan terhadap Alokozai.

Itu setelah tes yang dilakukan laboratorium yang dikelola pemerintah menemukan bahwa ramuan herbalnya ternyata kombinasi dari opium, papaverine, kodein, morfin, dan beberapa tumbuhan lain.

Pada konferensi pers, penjabat Menteri Kesehatan Masyarakat Afghanistan, Ahmad Jawad Osmani, mengatakan, pengobatan Alokozai tidak lebih dari campuran narkotika yang diproduksi secara lokal dan penggunaannya dapat menyebabkan peningkatan tingkat kecanduan narkoba.

Sementara itu, Masooma Jafari, wakil juru bicara Kementerian Kesehatan Masyarakat Afghanistan, mengatakan, kementerian tersebut dengan tegas menolak klaim Alokozai. (JPC)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...