Banyak Paslon Abaikan Protokol Kesehatan, Relawan Uji Swab, Appi Paling Patuh di Makassar

Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin - Rahman Bando mendaftar ke KPU Kota Makassar, Minggu, 6 September. IDHAM AMA/FAJAR

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — KPU dan Badan Pengawas Pemilu dituntut tegas. Diskualifikasi pasangan calon yang terbukti abaikan protokol kesehatan coronavirus desease 2019 (covid-19).

Tiga hari masa pendaftaran pasangan calon pada pemilihan kepala daerah serentak kerumunan massa tidak terbendung. Pasangan calon justru mempertontonkan mobilisasi massa. Unjuk kekuatan dan mengabaikan protokol kesehatan.

Ahli Epidemiologi Univesritas Hasanuddin, Prof Ridwan Amiruddin mengatakan, dalam proses politik bukan kumpulan massa yang diperlihatkan. Seharusnya pasangan calon (paslon) memikirkan cara untuk lebih menekan laju paparan covid-19.

Karena itu, kata dia, bukan memperlihatkan banyaknya titik atau kumpulan massanya. Hal itu justru menunjukkan tidak adanya perhatian mengenai protokol kesehatan. “Terutama sosial distancing (jaga jarak). Belum lagi APD,” tegasnya.

Dalam konvoi, kata dia, mungkin tidak begitu berpengaruh karena di area terbuka. Tetapi, ketika telah berkumpul dan bercengkerama sangat memberi risiko besar. Ancaman berkepanjangan karena kondisi ini bisa membawa klaster baru.

Ketua Tim Konsultan Pengendalian Covid-19 Sulsel itu menyampaikan, untuk memastikan betul proses ini memberi dampak besar akan terlihat dalam sepekan kedepan. Artinya, dalam tujuh hari hingga 14 hari atau masa inkubasi.

Jika ada peningkatan signifikan maka dampaknya jelas ada. Dan laju terkonfirmasi kembali akan meningkat. Sebab, dari segi natural imunity di Sulsel juga belum maksimal. Terlebih warga sudah tidak begitu peduli.

Komentar

Loading...