Bela Puan Maharani, Ini Pernyataan Lengkap Ahmad Basarah

Rabu, 9 September 2020 10:44

Ketua DPP PDIP, Puan Maharani-- (Dery/JawaPos.com)

Bahkan, lanjutnya, Bung Hatta memiliki peran yang amat penting ketika terjadi perubahan dari Naskah Piagam Jakarta menjadi konsep Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sebelumnya, dalam Naskah Piagam Jakarta sila pertama berbunyi “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya”. Kemudian, berubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Ini adalah berkat jasa Bung Hatta. Pada pagi hari sebelum dilakukan sidang PPKI 18 Agustus 1945 beliau melobi tokoh-tokoh Islam agar berkenan tujuh kata tersebut menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa agar persatuan bangsa Indonesia yang baru satu hari dimerdekakan tetap kukuh menjadi bangsa yang bersatu dan berdaulat,” kata dia.

Akhirnya, lanjut dia, lobi Bung Hatta menghasilkan kesepakatan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai titik temu yang mempertemukan pandangan golongan Islam dan kebangsaan.

“Jadi, tidak mungkin Mbak Puan a-histori terhadap pandangan itu,” tegas Basarah.

Ia menegaskan statemen politik Puan tidak dimaksudkan menyinggung siapa pun juga, termasuk kompetitor lainnya di pilkada Sumbar dan kelompok oposisi pemerintah. Karena itu, Basarah berpendapat tidak ada mens rea, maupun motif untuk mendiskreditkan apalagi merusak citra masyarakat Minang.“Karena yang disebut dalam statemen Mbak Puan itu adalah Provinsi Sumbar. Provinsi Sumbar artinya bicara tentang kepala daerah yang pada saat itu calon gubernur dan calon wakil gubernurnya sedang diputuskan oleh PDIP,” kata dia.

Komentar