Gaet Informasi Kasus Besar, MAKI: Kami Tidak Punya Alat Sadap, Hanya Handphone

Rabu, 9 September 2020 16:53

KAWAL KASUS: Koordinator MAKI Boyamin Saiman. MAKI mendapatkan informasi dan data dari berbagai pihak, tapi bukan dari BIN. (AGUS DWI PRASETYO/JAWA POS)

Makin lama, semakin banyak orang yang melaporkan dugaan kasus korupsi dan penyimpangan ke nomor ’’call centre’’ MAKI. Bahkan, sehari bisa 10 nomor baru yang menghubungi. Namun, tidak semua laporan dan informasi itu ’’dikawal’’ ke penegak hukum. ’’Paling banyak (yang dilaporkan) itu investasi bodong,’’ ungkapnya.

Boyamin menambahkan, selama dua bulan terakhir, dirinya tidak bisa melakukan pekerjaan utama sebagai advokat/pengacara. Sebab, dia harus mengawal urusan terkait dengan Djoko Tjandra dan Ketua KPK Firli yang sampai sekarang belum tuntas. ’’Pekerjaan utama saya jadi terbengkalai,’’ tutur jebolan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta tersebut.

Kiprah Boyamin Saiman bersama MAKI dalam upaya pemberantasan korupsi juga dibutuhkan penegak hukum dan lembaga pengawas penegak hukum. Komisi Kejaksaan (Komjak), misalnya. Mereka menilai keberadaan MAKI dibutuhkan sebagai kontrol sosial penegak hukum. ’’Memperkuat penegak hukum yang orientasinya kepada keadilan masyarakat,’’ terang Ketua Komjak Barita Simanjuntak kepada Jawa Pos kemarin.

Barita mengakui, Boyamin yang kerap lantang menyuarakan praktik-praktik korupsi di banyak lembaga menunjukkan adanya partisipasi dari publik. “Sangat dibutuhkan ada peran-peran yang dijalankan MAKI,” imbuhnya. (JPG)

Bagikan berita ini:
5
8
5
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar