Unhas Tetap Katalisator Pendidikan Indonesia Timur

Unhas Katalisator, Pendidikan Indonesia Timur

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Universitas Hasanuddin (Unhas) genap berusia 64 tahun, Kamis (10/9/2020). Kampus yang identik dengan warna merah itu kini menjadi katalisator pendidikan di Indonesia Timur.

Sejak 1956, berbagai torehan sudah diraih kampus berlogo ayam jantan itu. Pada usianya yang sudah tidak muda ini, Unhas membuktikan kematangannya sebagai perguruan tinggi terbaik di luar pulau Jawa.

Banyak faktor penopang mengapa Kampus Merah, julukan Unhas, bisa menjadi barometer pendidikan yang bereputasi. Kualitas sumber daya manusia (SDM) hingga inovasi yang dihadirkan, mampu menyentuh masyarakat secara langsung.

Segala capaian tersebut disebutnya sebagai Humaniversity. Status ini sudah dicanangkan sejak 2019 lalu kala Unhas genap berusia 63 tahun. Hingga saat ini, status Humaniversity dijadikan acuan dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi.

Rektor Unhas, Prof Aries Tina Pulubuhu mengungkapkan, pada usia ke-64 tahun ini menjadi momentum bagi Unhas untuk merefleksi diri. Masih banyak hal yang perlu dikejar untuk memacu kualitas pendidikan yang dijalankannya.

Dwia menyebut ke depan Unhas punya tantangan yang cukup berat. Semua umat dituntut beradaptasi dengan kebiasaan baru. Di mana pandemi Covid-19 mengajarkan banyak pihak untuk lebih meningkatkan jiwa kemanusiaan.

Itulah mengapa, kata dia, pada Dies Natalis ke-64 tahun ini Unhas terus mematangkan statusnya sebagai kampus Humaniversity. Status itu dinilainya sejalan dengan tantangan global yang sedang dihadapi bersama saat ini.

“Kearifan dan kemanusiaan seharusnya tercermin dalam berbagai tindakan dan aktivitas. Kami mencoba menguatkan lahirnya dorongan ini bagi para SDM, mahasiswa, alumni, dan menyebarkannya kepada masyarakat luas,” ucapnya.

Seterusnya, jargon Humaniversity akan ia gaungkan dalam wujud yang lebih nyata. Rektor dua periode itu memaknainya dengan semakin cerdas, matang dalam bertransformasi, dan bijak dalam mengelola kehidupan sosial.

“Untuk mewujudkannya, Unhas mengelola proses belajar sebagai learning Journey agar mencapai kemampuan dan keterampilan. Maka kami berusaha menciptakan proses pembelajaran yang lebih berintegritas, inovatif, dan arif,” sebutnya.

Perkuat Mutu

Selama setahun ini, Dwia melaporkan telah berupaya memperluas jalur penerimaan mahasiswa baru (maba). Selain melalaui jalur SNMPTN, SBMPTN, serta Mandiri, Unhas juga membuka jalur bakat kepemimpinan.

Salah satunya, dengan menerima calon mahasiswa yang berpengalaman sebagai ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Sehingga, mereka bisa memperkuat input calon-calon pemimpin yang kuat.

“Mahasiswa di wilayah-wilayah tertinggal, terbelakang juga kami buka secara luas. Termasuk kelas internasional. Jadi tahun ini kami menerima lamaran 59.203 dan kami menerima sebanyak 6.746 mahasiswa baru,” ujarnya.

Saat ini, dari total 104 prodi di seluruh jenjang program studi (prodi) di Unhas, 69 persen sudah berakreditasi A. Khusus pada jenjang sarjana, 87 persen dari 52 prodi sudah meraih akreditasi tertinggi tersebut.

Akreditasi internasional juga terus dipacu oleh Unhas. Dwia menyebut sudah mempersiapkannya sejak 2015 lalu. Hingga kini, sudah ada 29 prodi dari jenjang sarjana yang meraih akreditasi internasional.

“Kami juga kiat dalam mengakreditasi laboratorium. Sudah dipersiapkan dalam proses yang panjang karena sangat ketat dari segi SOP. Sehingga laboratorium FKM yang terakreditasi. Dan sebentar lagi menyusul laboratorium Fakultas Peternakan dan MIPA. September ini proses visitasi akan berlangsung,” paparnya.

Audit mutu internal juga gencar dilakukan agar terus berada pada koridor tridarma perguruan tinggi. “Hasilnya menunjukkan delapan dari sembilan standar sudah mencapai lebih dari angka 90 persen,” sebutnya.

Publikasi Masif

Soal riset, dari tahun ke tahun Unhas juga terus berpacu. Pada 2014 lalu saat Dwia dikukuhkan sebagai rektor, publikasi Unhas berada di posisi 426 yang terindeks scopus. Kemudian terus menanjak melampaui beberapa perguruan tinggi lainnya.

“Akhir 2019 mencapai 2.989 artikel terindeks scopus. Namun hingga akhir 2020 kami menembus angka 5.405 dokumen yang tersebar di jurnal terindeks scopus,” bebernya.

Melihat peningkatan itu, tahun ini Dwia menarget 1.750 artikel. Hasilnya pun cukup memuaskan. Hingga September ini, tercatat sudah ada 1.359 dokumen. “Ini prestasi. Membuat kita berada di urutan kelima seluruh Indonesia,” sambungnya.

Dorongan tersebut, kata Dwia, tak semata-mata diberikan kepada seluruh civitas akademika Unhas. Ada insentif yang disiapkan bagi para penulis. “Saya sudah minta anggaran yang cukup besar di WR II. Selama dua tahun terkahir lebih dari Rp10 miliar kami berikan untuk insentif publikasi di jurnal-jurnal terbaik,” terangnya.

Ubah Paradigma

Ketua Majelis Wali Amanah (MWA) Unhas, Syafruddin menyebut, saat ini Unhas berada di posisi ketujuh perguruan tinggi terbaik yang ada di Indonesia. Kata dia, hal ini menjadi prestasi yang perlu terus dikembangkan.

“Rangking kita universitas seluruh dunia masih berada di angka 400-an. Mudah-mudahan kita bisa masuk 100 besar. Tetapi patut disyukuri, Unhas satu-satunya yang masuk 10 besar di luar Jawa,” kata dia.

Syafruddin mengatakan, yang perlu menjadi perhatian saat ini adalah pengembangan SDM yang difokuskan pada akses pendidikan di dalam maupun luar negeri. Meski diakuinya sudah banyak inovasi yang mengarah pada pengembangan tersebut.

“Tuntutan paradigma telah merubah pola konsumsi pendidikan mahasiswa. Baik oleh penyediaan program double degre, perubahan kurikulum inti, maupun alternatif yang bisa menjangkau kondisi kekinian,” ungkapnya.

Dia juga meminta Unhas tak henti-hentinya menangkap peluang teknologi. “Beda generasi, beda pendidikan, beda skill yang dihasilkan. Dan yang penting lulusan mampu bersaing menjadi entrepreneur untuk membangkitkan ekonomi Indonesia,” kuncinya.

Pesan Gubernur

Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah mengajak Unhas untuk menyentuh sektor-sektor yang masih terus berjuang untuk bangkit. Khususnya bagi masyarakat yang berada di daerah pesisir Sulsel.

Nurdin menuturkan, di tahun 2000-an Sulsel pernah berada pada era kejayaan bagi seluruh petani tambak udang sitto atau udang windu. Kala itu, kata dia, Sulsel berada di peringkat ketiga secara nasional mengenai hasil panennya.

“Mari kita kembalikan kejayaan udang sitto yang pernah mendunia dan itu berasal dari Sulawesi Selatan,” ajak mantan Bupati Bantaeng dua periode itu.

Menurutnya, banyak sekali potensi di 24 kabupaten/kota di Sulsel yang bisa dikembangkan. Peran Unhas sebagai perguruan tinggi yang berbasis riset disebutnya mesti terus mengambil bagian.

“Saya titip beberapa hal ke Ibu Rektor kita pada kesempatan ini. Masyarakat kita saat ini dikelilingi oleh sebuah kekayaan alam yang sangat luar biasa. Itu harus kita kembangkan bersama,” ungkapnya.(isman/fajar)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...