Buntut Penusukan Syekh Ali Jaber, Ketua Umum FPI Serukan Siaga Jihad

Selasa, 15 September 2020 13:55

Ketua Umum FPI, Ahmad Shobri Lubis-- pojoksatu

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Front Pembela Islam (FPI), GNPF Ulama dan Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) geram dengan sikap penegak hukum yang dinilai kurang tegas memproses setiap kasus penyerangan ulama.

Bahkan setiap kasus penyerangan ulama kerap dikaitkan bahwa pelaku mengalami gangguan jiwa alias gila.

Atas hal itu, ketiga ormas tersebut langsung mengintruksikan kepada Laskar, Jawara, Pendekar dan Brigade serta Umat Islam untuk meningkatkan kewaspadaan.

Intruksi ini buntut dari penusukan Syeikh Ali Jaber di Lampung yang dilakukan seorang pemuda berinisial AA.

“Menyerukan kepada segenap Umat Islam Indonesia untuk Siaga Jihad,” kata Ketua Umum FPI, Ahmad Shobri Lubis dalam keterangan tertulisnya, Selasa (15/9/2020).

Anak buah Habib Rizieq ini juga menyerukan kepada umat agar tak gentar melawan segala bentuk propoganda yang diduga dilancarkan oleh kelompok PKI.

“Kita melawan segala bentuk propaganda dan makar serta rongrongan Neo PKI kapan saja dan di mana saja,” tegasnya.

Selain itu, Lubis juga meminta kepada umat Islam, baik para ulama, pondok pesantren, jamaah tabligh agar tak sungkan-sungkan meminta pengamanan kepada FPI, GNPF Ulama serta PA 212.

“Jangan sungkan- sungkan untuk berkoordinasi dalam pengamanan acara dengan FPI, GNPF Ulama dan PA 212 serta jaringan ANAK NKRI,” tegas Lubis.

Diketahui, Syeikh Ali Jaber ditusuk seorang pemuda berinisial AA saat menghadiri pengajian dan wisuda Tahfidz Al Quran di Masjid Falahudin yang berada di Jalan Tamin, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Minggu (13/9/2020) sore.

Akibat kejadian itu, Ali Jaber menderita luka tusuk di bahu dan harus menerima enam jahitan di bagian dalam dan empat jahitan di bagian luar.

Adapun pelaku ditangkap oleh jemaah dan telah diserahkan ke pihak berwajib. Saat ini polisi masih menyelidiki motif penusukan.

Polisi juga sebelumnya sudah menetapkan status tersangka kepada Alfin Andrian.

Alfin dijerat pasal 351 KUHP; (1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. (pojoksatu/fajar)

Bagikan berita ini:
9
8
10
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar