Pengalaman Ridwal Kamil Disuntik Vaksin Covid-19, Pegal hingga Efek Kantuk

Gubernur Jabar Ridwan Kamil. (Humas Pemprov Jabar)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menjadi bintang tamu dalam acara Podcast Deddy Corbuzier yang disiarkan melalui channel Youtubenya, Selasa (15/9/2020).

Deddy bersama dengan Ridwan Kamil membahas tentang suntikan vaksin Covid-19 yang telah dijalankan oleh mantan walikota Bandung itu.

Ridwan Kamil pun membahas tentang pengalamannya mendapatkan suntikan vaksin yang masih dalam masa percobaan di Indonesia.

Ridwan Kamil mengaku ketakutan sebelum disuntikkan vaksin tersebut. Namun ia melakukan berbagai cara seperti searching di google tentang efek samping yang akan dialami setelah melakukan suntikan vaksin ini hingga menanyakan langsung kepada Prof Kusnandi yang menjadi Ketua Uji Coba Vaksin Nasional.

Ridwan Kamil mengaku rela disuntik vaksin untuk menunjukkan kepada rakyat dalam masa seperti ini pimpinan yang harus maju duluan sebelum rakyatnya yang mencoba. Beliau takut jika tidak mengikuti tes ini rakyat akan berpikir bahwa mereka dijadikan kambing hitam dalam percobaan ini.

“Ibu saya memberikan restu untuk suntik vaksin ini. Kalau dalam situasi seperti ini kan kita sedang berperang dengan virus covid-19. Kalau ada rejeki rakyat yang di depan pemimpin belakangan. Tetapi kalau ada khawatir maka pemimpin yang di depan membereskan kekhawatiran lalu rakyat belakangan,” Kata Ridwan Kamil.

Setelah menjalankan penyuntikan vaksin ini Ridwan Kamil mengaku mengalami efek-efek yang dijelaskan oleh Profesor Kusnandi. Dia mengalami kebengkakan di bagian yang terkena suntikan, pegal-pegal, dan mengalami demam sesaat.

Ridwan Kamil mengatakan 5 menit pertama setelah melakukan suntikan mengalami pegal-pegal karena suntikan vaksin ini menggunakan jarum yang cukup besar. Keesokan harinya ia mengalami kantuk yang terlalu sering.

“Sebelum melakukan suntikan vaksin, saya diharuskan untuk menandatangani surat perjanjian untuk mengcover asuransi. Setelah suntuk saya diberi kertas guna untuk melapor mengenai suhu badan setiap harinya pada waktu tertentu dan menuliskan perasaan yang dirasakan setelah melakukan suntikan vaksin,” jelasnya.

Setelah beberapa minggu, Ridwan menyebutkan peneliti akan kembali mengecek kondisinya. Jika mayoritas tidak mengalami dampak-dampak yang parah. Lalu darah yang dites naik sebesar 90 maka vaksin ini sudah dinyatakan untuk layak produksi. (Ayu Saraswaty Putri B/masasiswa magang UIM/fajar)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...