Tambang Emas Longsor, 50 Penambang Tewas

ilustrasi penambangan emas

FAJAR.CO.ID, KINSHASA – Sebanyak 50 penambang emas diperkirakan tewas dalam insiden longsor di lokasi galian tambang emas di Kota Kamituga, Provinsi Kivu Selatan, Republik Demokratik Kongo.

Seperti dilansir AFP, Senin (14/9/2020), kecelakaan longsor tersebut diakibatkan hujan deras selama berhari-hari. Namun, peristiwa tidak diduga itu terjadi pada hari Jumat (11/9).

Diwa Honoré, salah satu penambang yang selamat dari tragedi tersebut mengatakan, bahwa lebih dari 50 orang berada di tiga sumur yang kedalamannya sekitar 50 meter.

Gubernur Kivu Selatan, Theo Ngwabidje Kasi mengaku menyesalkan atas peristiwa tragis yang menewaskan 50 orang penambang dan kebanyakan dari mereka masih muda.

Sementara itu, Wali Kota Kamituga, Alexandre Bundya mengatakan, bahwa pihaknya belum bisa memastikan jumlah pasti korban. Menurutnya, sejauh ini, belum ada mayat yang dapat ditemukan. Namun, pihak keluarga telah datang untuk mencari kerabat mereka.

“Tim-tim SAR telah bekerja keras sejak pagi hari untuk berusaha mencari jenazah, tapi karena minimnya peralatan, mereka kesulitan bekerja secara efisien,” katanya

“Kami memutuskan dua hari berkabung dan meminta penduduk setempat untuk membantu mengeluarkan jenazah dari tanah,” imbuhnya.

Mukambilwa Sidibo, koordinator pergerakan masyarakat sipil Kongo di Kamituga menerangkan, para korban tewas terletak di tiga sumur.

“Sejumlah anak muda dan para ayah, kemudian penambang tewas hari ini (Jumat) di Nivelle, Kubota, dan Tendi,” katanya.

Seorang warga lokal di tempat kejadian menyebutkan, bahwa para penambang itu berada dalam ketiga sumur untuk mencari emas ketika hujan deras terus mengguyur.

“Sejauh ini hanya satu mayat yang telah ditemukan,” kata Jean Nondo Mukambilwa kepada AFP.

Diketahui bahwa hujan deras telah membanjiri sungai di dekat tambang. Hal ini menepis laporan sebelumnya yang menyatakan bahwa tambang itu ambruk.

“Bukan ambruk. Itu karena hujan kecelakaan itu terjadi,” ujarnya.

“Air masuk ke tiga terowongan. Saat orang mencoba keluar, tidak mungkin karena air mengalir deras, dengan tekanan tinggi,” sambungnya.

“Penyelidikan harus dilakukan untuk mengetahui penyebab bencana ini,” kata perwakilan masyarakat sipil, Nicolas Kyalangalilwa.

Dapat diketahui, penambangan artisanal di bagian timur Kongo dan wilayah Kasai seringkali tidak aman. Para perempuan dan anak-anak juga bekerja di tambang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kejadian serupa juga terjadi awal tahun ini di Maniema dan di Katanga, menewaskan sedikitnya 18 orang.

“Tertimbun, tanah longsor, dan sesak napas merupakan risiko yang sering dihadapi para penambang batu berharga, yang sering kali tak mengenakan alat pelindung diri selain sepatu boot,” kata Sara Geenen, seorang asisten profesor di Universitas Antwerp di Belgia. (fin)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...