Kisah Tersembunyi Backpacker di Australia, Bayaran Murah hingga Dimanfaatkan Secara Seksual

lin worked on an Australian farm. (ABC News: Paul Yeomans)

FAJAR.CO.ID — Elin cuma bisa mendapatkan penghasilan sebesar $70, atau sekitar Rp700 ribu. Itu setelah dia bekerja selama dua bulan di sebuah usaha pertanian di Queensland.

Ia tak sendiri. Setiap tahun, puluhan ribu anak muda jadi ‘backpacker’ disalurkan ke sektor pertanian Australia. Banyak di antaranya yang menjadi tenaga kerja murah dan sebagian dilecehkan secara seksual.

Mereka datang melalui program ‘Work and Holiday Visa’ (WHV) dan di bawah pengawasan Pemerintah Australia. Selama ini Pemerintah Australia selalu menjanjikan untuk mengambil tindakan tegas terhadap eksploitasi sistematis yang dialami backpacker dari berbagai negara.

Tapi, kisah kelam sebagian dari mereka serta data yang diperoleh ABC News menunjukkan hal sebaliknya.

MUNGKIN kita heran bagaimana bisa seseorang bekerja selama dua bulan hanya mendapatkan $70 seperti yang dialami Elin, bukan nama sebenarnya.

Bila pekerja di Australia umumnya dibayar menurut hitungan per jam, para backpacker yang bekerja di sektor pertanian biasanya dibayar menurut seberapa banyak yang mereka bisa produksi. Misalnya, seberapa banyak buah atau sayuran yang bisa mereka petik atau seberapa banyak bibit yang bisa mereka tanam dalam sehari. Selama bekerja di sebuah perkebunan stroberi, Elin mengaku tak selalu diberitahu berapa upah yang dikenakan.

Menurut perhitungannya sendiri, Elin menyebut terkadang dia hanya memperoleh $2,5 atau sekitar Rp25.000 per jam.

Komentar

Loading...