Perusahaan AS Galau, Bertahan atau Pergi dari Tiongkok

Ilustrasi konflik antara AS dan Tiongkok (BBC)

FAJAR.CO.ID — Sejumlah perusahaan Amerika Serikat dilaporkan bimbang terkait situasi memanas antara AS dan Tiongkok. Perusahaan di bidang farmasi dan bioteknologi khususnya sedang bingung mempertimbangkan untuk menjalankan bisnis di Tiongkok karena khawatir.

Mereka mengkhawatirkan dampak geopolitik terhadap aturan dan regulasi.

Di Hongkong, kekhawatiran lebih tajam. Sebuah survei baru-baru ini oleh AmCham terhadap anggotanya menunjukkan bahwa 40 persen meninggalkan Hongkong sebagai tanggapan atas undang-undang keamanan baru Tiongkok.

Undang-undang itu dikombinasikan dengan penanganan wabah Covid-19 di Tiongkok (penduduk Wuhan tidak diizinkan bepergian di dalam negeri Tiongkok tetapi diizinkan melakukan perjalanan internasional).

“Tiongkok mewakili sebagian besar populasi dunia. Maka membutuhkan obat-obatan, dan AS adalah pemimpin dalam memproduksi obat. Kami, pada gilirannya, membutuhkan seperangkat pedoman yang jelas untuk mengatasi kendala tersebut,” kata praktisi perusahaan biotek yang juga Ketua BIO Jeremy Levin, D.Phil., mengatakan kepada BioSpace.

Dengan kedua negara berselisih aturan dan regulasi bisnis berpengaruh. Para pemimpin bioteknologi bingung untuk memahami cara bekerja di Tiongkok.

“Ekonomi Tiongkok sedang berkembang pesat meski ada Covid-19,” kata Levin.

Bursa Efek Hongkong (SEHK) dijelaskan memiliki mekanisme yakni perusahaan tanpa pendapatan dapat menambah modal di bursa tersebut. Bursa Efek Shanghai sebaliknya mengharuskan perusahaan yang terdaftar menghasilkan pendapatan. Akibatnya, SEHK menjadi jalan penting bagi perusahaan-perusahaan Amerika untuk meningkatkan modal di Tiongkok.

Komentar

Loading...