Dinas Perikanan Pinrang Tanpa Solusi, Petambak Pilih Jadi Petani

Ilustrasi petani menggunakan alsintan (Dok. Jawa Pos)

FAJAR.CO.ID, PINRANG — Dulu Bumi Lasinrang pernah jaya dengan popularitas produksi udang sitto atau windu. Sekarang tidak lagi. Persoalannya itu-itu saja. Dinas terkait tak punya solusi efektif.

Salah satu petambak di Kecamatan Cempa Kabupaten Pinrang, Waris, bercerita, kalau kendala yang dihadapi petambak saat ini, soal pertumbuhan bibit udang sitto.

Waris bertutur, ketika petambak mengisi bibit udang sitto di tambaknya, dengan jumlah 30-50 ribu ekor per petak. Tidak semuanya bisa bertahan. Sebab seiring perjalanannya, bibit udang tadi sulit tumbuh baik. Bahkan, lebih banyak yang mati dari berhasil melalui proses pembesaran.

Mentaktisi hal tersebut, lelaki paruh baya itu mengaku, kalau tambaknya kini tak difokuskan lagi untuk udang. Agar tetap produktif, ia memilih ikan mas, nila dan bandeng untuk dikembangkan di tambaknya yang kurang lebih seluas 2 hektare.

“Tetapi saya juga alih fungsikan satu hektare lebih. Dari tambak menjadi lahan pertanian. Susah diharap kalau tambak. Tidak ada solusi efektif dari dinas terkait,” imbuh Waris, Minggu 20 September.

Terpisah, Sekdis Perikanan Kelautan Kabupaten Pinrang, Agustina Torano, menepis anggapan, jika pihaknya sama sekali tak punya solusi, mengembalikan kejayaan udang windu seperti sebelumnya.

“Keliru itu kalau bilang tidak ada solusi, karena untuk urusan budidaya, ditangani oleh 2 bidang dan mengelola anggaran dinas sekitar 60 persen dari anggaran dinas setiap tahunnya,” tutupnya. (gsa/fajar)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...