Mengenal Sistem Penanggalan masyarakat Sulawesi Selatan Berdasarkan Naskah Lontara

Nor Sidin Ambo Upe

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Sejumlah gebrakan besar banyak lahir dari tangan anak bangsa, tidak terkecuali putra-putri dari tanah Bugis.

Baru-baru ini, salah seorang putra Bugis, Nor Sidin Ambo Upe (41) telah melahirkan karya fenomenal. Lelaki kelahiran 27 Agustus 1979 tersebut telah meluncurkan buku tentang sistem penanggalan masyarakat Sulawesi Selatan berdasarkan naskah lontara, Bilang Taung.

Bilang Taung sendiri lahir dari riset panjang yang dilakukan Nor Sidin, baik dari perpustakaan dalam negeri sampai ke perpustakaan yang ada di luar negeri.

“Riset untuk buku pertama dilakukan di tahun 2019 selama 6 bulan. Buku kedua di bula Maret 2020 selama 6 bulan juga. Rujukan yang dipakai adalah menggunakan naskah-naskah lontara,” ujar Nor Sidin.

Didalam penggarapan kedua buku Noor Sidin atau akrab disapa Ambo Uphe ini, di bantu oleh Dr.Muhlis Hadrawi, Kepala Jurusan Sastra Unhas dan Sapri Pamulu P.hD adalah tokoh pemerhati sejarah dan budaya Sulsel

Untuk buku Bilang Taung, bahasa yang digunakan dalam buku tersebut didominasi oleh bahasa Bugis-Makassar. Hal ini sengaja dilakukan Ambo Upe sebagai bentuk penegasan identitas masyarakat Bugis-Makassar.

“Berbahasa Bugis dan Berbahasa Makassar. Naskah lontara tersebut berasal dari dalam dan luar negeri, terutama naskah-naskah lontara koleksi Perpusnas Indonesia di jakarta,” jelasnya.

Sementara untuk riset sendiri, di dalam negeri Ambo Upe telah menyusuri berbagai perpustakaan, termasuk Perpunas dan Badan Arsil nasional. Sementara untuk di luar negeri, Ambo Upe melakukan penelusuran sampai ke Negeri Kincir Angin.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...