Kapolda Sulsel Bantah Insiden Pengusiran Jurnalis di Wajo

Kapolda Sulsel, Irjen Pol Merdisyam saat berkunjung ke redaksi FAJAR. (ishak/fajar.co.id)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Insiden pengusiran jurnalis televisi nasional akhirnya mendapat respons. Kapolda Sulsel, Irjen Merdisyam membantah adanya kejadian tersebut.

Insiden pengusiran ini dialami salah satu stasiun televisi nasional, saat melaksanakan peliputan kegiatan Merdisyam, menjenguk penderita kanker di Kota Sengkang, Wajo, Minggu, 27 September merupakan mis komunikasi.

“Tabe, saya rasa tidak ada pengusiran dan pelarangan pengambilan gambar. Apalagi tadi itu kegiatan sosial. Mungkin yang terjadi kesalahpahaman saja karena tadi lokasinya terlalu kecil dan berdesakan,” kata Merdisyam kepada FAJAR.CO.ID.

Merdisyam berharap, insiden tersebut bisa dipahami situasi dan kondisinya. “Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. ke depan, kita lebih meningkatkan sinerginya lagi,” ungkapnya.

Ketua AJI Makassar, Nurdin Amir mengatakan, melarang jurnalis itu tidak dapat dibenarkan. Karena tindakan tersebut bertentangan dengan Undang-Undang Pers No.40 tahun 1999.

“Polisi tidak berhak melarang atau mengusir jurnalis yang liputan kunjungan Kapolda Sulsel di Wajo. Jurnalis berhak melakukan kerja-kerja jurnalistik yang berkaitan dengan hak publik. Pengusiran ini menunjukkan bentuk tindakan tidak profesional menghadapi jurnalis,” katanya.

Mengusir jurnalis dari lokasi liputan lanjutnya, sama saja menghalangi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar dan akurat di lapangan. Tindakan itu mengancam kebebasan pers.

“AJI Makassar meminta polisi tidak perlu alergi terhadap kerja-kerja jurnalis. Sebab, jurnalis atau pers berhak mengembangkan pendapat umum berdasarkan infromasi yang tepat, akurat, dan benar,” ungkap lelaki yang akrab disapa Nuru itu.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...