Dua Kapolda Lulusan Akpol 91 Tak Izinkan Deklarasi KAMI, Gde Siriana: Polisi Semestinya Netral

Gde Siriana. (Int)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Direktur Eksekutif Indonesia Future Studies (INFUS) Gde Siriana ikut prihatin atas tindakan kepolisian di Jawa Timur dan NTB yang membubarkan deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI).

Gde bahkan membeberkan dua pimpinan Polda yang menolak adanya deklarasi KAMI merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1991.

“Mestinya Kapolda Jatim & NTB bisa jelaskn knp deklarasi KAMI tdk bs di Sby & Mataram, sdgkan kota lain meski ada aksi pnolakan ttp bs jalan. Ini soal prinsip2 dmokrasi. Aplg bpk2 Kapolda sm2 lulusan 91,” katanya di akun Twitternya, Senin (28/9/2020).

Deklarator KAMI itu juga meminta kepolisian netral dan menjungjun hak demorkasi setiap warga negara.

“Juga pak Kapolres Sby mantan ajudan Pres Jokowi. Mestinya Sby kondusif demokrasi,” lanjutnya.

Gde Siriana Yusuf menilai penolakan dan pembubaran tersebut merupakan tanda bahwa KAMI memang benar-benar membuat penguasa atau rezim Jokowi saat ini takut dan panik.

“Deklarasi KAMI di Surabaya dibubarkan oleh KITA pertanda KAMI membuat penguasa makin takut dan panik,” ujar deklarator KAMI itu di akun Twitter, @SirianaGde, Senin (28/9).

Menurut Gde Siriana, penolakan KAMI tersebut juga semakin membuat nama Gatot Nurmantyo dan KAMI semakin melambung.

Gde pun meminta kepada pihak kepolisian untuk berpihak netral untuk mengamankan deklarasi KAMI di dalam gedung dan mengamankan aksi yang menentang KAMI di luar gedung.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...