Mantan Menteri BUMN, Tanri Abeng, Pernah Munculkan Ide Superholding, Begini Kisahnya

Tanri Abeng. (int)

FAJAR.CO.ID — Masih ingat Tanri Abeng? Putra Selayar ini adalah mantan menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di masa orde baru.

Ternyata, pengusaha sukses ini sempat memunculkan ide pembentukan superholding BUMN. Dia bercerita, pendirian Kementerian BUMN dan konsep superholding sendiri tak lepas dari krisis yang terjadi pada 1998.

Pada saat itu pertumbuhan ekonomi terjun bebas hingga 14 persen, inflasi 77 persen. Rupiah terdepresiasi dari 2.400 per USD menjadi 17.000 per USD pada Mei 1998. Namun, pada 15 Januari 1998, IMF sudah siap memberikan pinjaman (standby loan) dengan nilai USD 43 miliar.

Setelah penandatangan itu, Presiden Soeharto tampil di televisi dan memberikan pernyataan. Namun, Soeharto tak menjelaskan kaitannya utang dengan banyaknya BUMN.

Kemudian, tiga hari setelahnya, yaitu pada 18 Januari 1998, Soeharto memanggil dirinya di Bina Graha. Tanri yang sebelumnya sama sekali belum pernah berkomunikasi dengan Soeharto mengaku gugup.

“Pada waktu saya berhadapan Pak Harto beliau mengatakan begini, saya punya 159 BUMN tapi tidak produktif. Bagaimana caranya meningkatkan nilai BUMN ini sehingga kalau saya privatisasi maka harganya akan tinggi dan bisa membayar utang?” ujarnya dalam diskusi virtual, Senin malam (28/9).

Saat itu, Tanri menangkap maksud dan keinginan Soeharto adalah meningkatkan nilai tambah BUMN yang saat itu tidak produktif. Ia pun butuh waktu tiga pekan untuk mempelajari BUMN.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...