Angka Stunting Masih Tinggi, Ini Yang Dilakukan Sulsel


FAJAR.CO.ID, MAKASSAR–Perkembangan Stunting di Sulsel dari tahun ke tahun cukupfluktuatif. Yaitu : 34,1% (2015); 35,7% (2016); 34,8% (2017); 35,6% (2018). Dan, terakhir pada tahun 2019 turun 5,1%. Hal ini menobatkan Provinsi Sulawesi Selatan berada pada posisi 11 (sebelas) dari sebelumnya di posisi 4 (empat) untuk angka Stunting tertinggi di Indonesia.

Hal itu terungkap pada sambutan Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah yang dibacakan Junaedi B, S.Sos, MH, Kepala Bappelitbangda Sulsel. Pada acara Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Konvergensi Stunting di Provinsi Sulawesi Selatan” dan sekaligus dalam rangka persiapan pelaksanaan Penilaian Kinerja 8 (delapan) Aksi Konvergensi Percepatan PenurunanStunting Kabupaten/Kota di Provinsi SulawesiSelatan Tahun 2019 dan 2020, di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Gubernur. Selasa (29/9/20).

Junaedi mengatakan, stunting adalah suatu kondisi gagal tumbuhpada anak akibat dari kekurangan gizi kronissehingga anak terlalu pendek dari usianya.Kekurangan gizi kronis terjadi sejak masa janinhingga 2 (dua) tahun pertama kehidupan. Masa itudikenal dengan masa Seribu Hari PertamaKehidupan (1000 HPK) yang merupakan periodeemas Pertumbuhan Anak.

“Stunting merupakan persoalan serius yangmengancam generasi penerus bangsa yang dapatmenghambat pertumbuhan fisik, mental danpenurunan intelegensia anak (IQ). Dan hal ini masihbanyak terjadi di Indonesia, khususnya di ProvinsiSulawesi Selatan. Hasil Survey Status Gizi BalitaIndonesia (SSGBI) Tahun 2019 mencatat prevalensi balita Stunting di Indonesia adalah 27,7%.” katanya.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...