Masa Pandemi, Angka Pasangan Bercerai Makin Tinggi

Rabu, 30 September 2020 20:01

ILUSTRASI

FAJAT.CO.ID — Selama masa pandemi Covid-19, ternyata angka gugat-cerai meningkat drastis jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Mulai Maret hingga Agustus, Pengadilan Agama (PA) Gresik sudah mengetok palu perceraian sebanyak 1.058 kali.

Mayoritas peceraian itu masih dilatarbelakangi masalah ekonomi dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Begitu juga perkara 1.058 perceraian pada masa pandemi ini. Berdasar data dari PA Gresik, ada 630 pasangan suami istri (pasutri) bercerai karena alasan ekonomi. Apalagi pada masa pandemi.

Hakim Humas PA Gresik Sofyan Zefri mengatakan, setelah masalah ekonomi, penyebab perceraian selanjutnya adalah perselisihan secara terus-menerus dan KDRT. ’’Jadi, memang alasan ekonomi yang tertinggi. Lebih dari 50 persen,’’ paparnya.

Berdasar data, kasus perceraian di Gresik dari tahun ke tahun juga masih didominasi usia rata-rata 25–40 tahun. Mengacu penggolongan generasi, usia mereka termasuk generasi milenial. ’’Pada 2018 dan 2019 juga didominasi usia produktif. Malah ada juga yang masih berusia di bawah 25 tahun,” imbuhnya.

Melihat data tahun sebelumnya, tren perceraian di Gresik mengalami peningkatan. Pada semester pertama (Januari–Juni) pada 2018, tercatat ada 843 kasus. Kalau dirata-rata, terdapat 140 janda atau duda baru setiap bulan.

Lalu, pada 2019 angka perceraian di semester pertama tercatat 927 kasus. Atau rata-rata 154 janda atau duda baru per bulan. Nah, pada 2020, selama enam bulan (Maret–Agustus) ternyata ada 1.058 kasus dengan rata-rata 176 perkara setiap bulan. Artinya, terdapat kenaikan 22 kasus.

Menurut Sofyan, selama masa pandemi, catatan kasus terbanyak terjadi pada awal-awal Covid-19 menyebar. Yakni, pada Maret dengan jumlah 268 perceraian. Dia menjelaskan, tren kasus perceraian itu meningkat pada masa sebelum pandemi bisa jadi karena masalah kecil di keluarga sudah muncul.

Lalu, karena tidak ada latar belakang lain, masalah itu bisa diredam. Nah, saat pandemi, masalah-masalah kecil tersebut membesar hingga berujung perpisahan.

Dia menegaskan, perceraian bukanlah satu-satunya solusi menyelesaikan masalah dalam rumah tangga. Sebetulnya prinsip perkara perceraian dipersulit agar tidak bisa serta-merta kalau ada masalah pasangan bisa semena-semena menggugat atau menceraikan.

Ada tiga faktor untuk memutuskan perkara cerai. Pertama, pertengkaran dan perselisihan. Kedua, faktor perpisahan. Ketiga, faktor gagalnya segala upaya perdamaian, baik melalui nasihat keluarga maupun hakim.

“Cerai itu emergency exit. Jadi, harus ada alasan yang benar-benar jelas sesuai hukum bisa dibuktikan. Kami di pengadilan agama tidak pernah ragu untuk menolak. Saya ini juga sebagai hakim. Perceraian itu sah, tapi seyogianya dihindari,” tandasnya. (jpc)

Bagikan berita ini:
4
5
7
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar