Pariwisata Mandek, Hasil Pertanian Tak Tersalur, Petani Merugi

FOTO: JPG

FAJAR.CO.ID — Saat ini, stok pertanian meluber karena tidak terserap. Harga pun anjlok. Mandeknya denyut pariwisata yang jadi penyebab hingga membawa dampak besar terhadap serapan hasil pertanian di Bali.

I Gusti Made Japa, petani asal Desa Pancasari Tabanan ketika ditemui di Denpasar Senin (28/9) mengatakan, sejak enam bulan lalu pihaknya mengalami kerugian yang cukup besar karena hasil pertaniannya yang biasanya diserap oleh pasar pariwisata sejak wabah covid-19 melanda dan pariwisata ditutup, tidak memiliki pasar.

“Sehingga kami terpaksa menjual murah, bahkan ada beberapa produk yang terpaksa kami buang karena tidak ada permintaan,” jelasnya.

Beberapa jenis produk hasil pertanian standar hotel yang terpaksa dijual murah bahkan harus dibiarkan membusuk antara lain, selada, baby romaine, bayam inggris, paprika, asparagus, beef tomato, beet root, baby bean, zucinni dan beberapa jenis hasil pertanian standar hotel lainnya.

Selain menjualnya kepada masyarakat lokal melalui pasar tradisional, Japa mengaku untuk meminimalkan kerugian, pihaknya berusaha untuk mengurangi produksi dengan cara tidak memaksimalkan produksi produk. “Karena permintaan sepi, maka lahan produksi kami tidak maksimalkan, penanaman bibit tidak kami optimalkan,” tambahnya.

Terkait dengan rendahnya serapan produk pertanian, Kepala Bidang Produksi, Dinas Pertanian dan Ketahan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunartha mengatakan, lemahnya serapan pasar dan turunnya harga produk pertanian tidak hanya terjadi di Bali, melainkan terjadi secara nasional.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...