Ada Potensi Bencana di Selatan Jawa?

ILUSTRASI. Bencana

Dia menerangkan, kalangan perguruan tinggi dan LIPI terus melakukan penelitian mengenai kebencanaan. Terutama terkait dengan sesar-sesar aktif di Indonesia. BPPT juga telah membuat early warning system INA-TEWS untuk mendeteksi tsunami di Indonesia. Salah satunya, alat berupa buoy (semacam pelampung yang ditempatkan di perairan). Alat itu bisa mendeteksi potensi tsunami dan dalam hitungan detik melaporkannya ke darat. Dengan demikian, sistem itu dapat menyelamatkan masyarakat dari bencana.

Dalam kesempatan tersebut, Prof Sri mengungkapkan, di dalam seismologi, definisi gempa mencakup kapan terjadi dan di mana posisinya. Tidak hanya mencakup koordinat, tapi juga magnitudo.

Dengan demikian, gempa sangat sulit diprediksi. Alumnus Kyoto University, Jepang, itu mengatakan, penelitiannya bersama tim multibidang tersebut berawal dari keingintahuan setelah ada paper karya Ron Harris dan Jonathan Major dari Amerika Serikat. Pada 2016 mereka memberitakan menemukan tsunami deposit di Pangandaran.

”Saya sebagai seismologis penasaran dari mana sumbernya itu. Apakah bisa kita petakan,” kata guru besar Kelompok Keahlian Geofisika Global Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB itu.

Kebetulan, lanjut dia, ITB menawarkan riset multidisiplin pada 2018. Tawaran itu disambut para peneliti. Penelitian akhirnya dimulai tahun lalu. ”Hingga dua minggu lalu muncul riset kami,” tuturnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, area studi penelitian itu berada di sepanjang Jawa bagian selatan. Dia mendapat peta gempa dari BMKG. Dari kacamatanya sebagai seismologis, peta tersebut sangat menarik karena ada seismic gap. ”Tidak seperti yang di selatan, sepanjang palung banyak gempa. Namun, di antaranya ada daerah jarang gempa,” jelasnya. Penelitian berlanjut untuk mengetahui kedalamannya. Diketahui bahwa posisi megathrust berada di kedalaman 30 kilometer.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar