Galeri Anggrek Unhas, Wadah Kewirausahaan bagi Mahasiswa

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR-- Puluhan tanaman anggrek tampak berjejer rapi di atas rak dalam screen house berukuran 5 x 4 meter persegi. Beraneka warna bunga anggrek dari jenis Dendrobium, Phalaenopsis, hingga Vanda mengisi Galeri Anggrek yang menjadi bagian dari Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin tersebut.

Beberapa mahasiswa yang mengenakan masker, terlihat tengah menyemprotkan larutan nutrisi, yang lain memasukkan pot-pot bunga ke dalam kardus-kardus berukuran besar, sebentar lagi bunga-bunga tersebut akan diantarkan ke pemilik barunya.

Di tengah terpuruknya berbagai sektor usaha akibat pandemi Covid 19, Galeri Anggrek Unhas yang digagas sebagai wadah pengembangan kewirausahaan bagi mahasiswa ini, justru mendapatkan momentum pertumbuhannya. Menurut penanggung jawab Galeri Anggrek Unhas Rinaldi Sjahril, di masa pandemi ini, omzet penjualan Galeri Anggrek justru melejit hingga lebih dari dua kali lipat.

“Permintaan anggrek meningkat selama masa WFH, banyak orang yang ingin sekedar menikmati bunga atau memelihara anggrek untuk melepas stress,” kata Rinaldi di Makassar.

Rinaldi menuturkan, Galeri Anggrek dirancang menjadi etalase untuk menunjukkan tanaman-tanaman anggrek hasil penelitian dan pengembangan Teaching Industry Universitas Hasanuddin, kepada masyarakat.

Anggrek-anggrek yang dijual dan dipamerkan di galeri ini sebagian besar merupakan hasil kultur in vitro dari Laboratorium Teaching Industry Universitas Hasanuddin.

“Konsepnya jelas, kami ingin mendekatkan hasil-hasil penelitian akademisi Unhas kepada masyarakat, kami menyuplai bibit anggrek bagi para pelaku usaha, sehingga mereka tidak perlu lagi mendatangkan bibit dari Jawa,” jelasnya.

Doktor lulusan Universitas Chiba Jepang tersebut menjelaskan, Galeri Anggrek awalnya memperoleh pendanaan dari internal Universitas Hasanuddin, namun dua tahun terakhir pihaknya juga memperoleh pendanaan dari Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPMU-PPUPIK) untuk pengembangan usaha ini.

Tidak hanya sekedar memproduksi bibit, dan menjual tanaman, kegiatan Galeri Anggrek juga mencakup rental dan dekorasi tanaman anggrek, klinik tanaman, hingga pelatihan produksi bibit tanaman anggrek secara in vitro yang diminati hobiis dan pengusaha tanaman hias.

Sayangnya, ketika pandemi Covid 19 merebak hampir seluruh kegiatan usaha Galeri Anggrek dihentikan. Tak ada lagi permintaan dekorasi, rental, apalagi pelatihan, omzet Galeri Anggrek sempat menurun drastis.

Dalam kondisi tersebut, Rinaldi menyadari bahwa satu-satunya kegiatan usaha yang dapat dioptimalkan adalah penjualan. Dibantu para mahasiswa, Galeri Anggrek menggenjot penjualan secara online. Instagram, Facebook, hingga status WhatsApp menjadi tempat untuk mempromosikan beragam bunga koleksi galeri.

"Mahasiswa kami cukup kreatif mendesain berbagai brosur dan memasarkan lewat sosial media,” ujarnya.

Tak hanya promosi, Galeri Anggrek juga berinovasi, jika awalnya hanya menawarkan tanaman hias, pada masa pandemi mereka menawarkan paket penanaman dan pemeliharaan anggrek. Dalam paket tersebut, konsumen memperoleh bibit anggrek, atau tanaman anggrek yang belum berbunga penuh, dilengkapi dengan media tanam, dan pupuk.

“Merawat bunga anggrek ini menjadi semacam terapi untuk melepas stress selama masa WFH,” tambah Rinaldi.

Berbagai upaya yang dilakukan untuk mendongkrak pendapatan Galeri Anggrek berbuah manis, dalam kurun waktu dua bulan, penjualan anggrek meningkat pesat. Jika awalnya, dalam sebulan penjualan hanya mencapai puluhan tanaman, kini angkanya telah menembus ratusan tanaman. Omzet yang diperoleh dari penjualan kini dapat menutupi kehilangan pendapatan dari kegiatan rental, dekorasi, hingga pelatihan.

“Anggrek kami telah dikirim ke Toraja, Soppeng, Sidrap, Enrekang, hingga ke Sulawesi Barat,” jelasnya.

Sebagian besar anggrek yang dikirim ke luar daerah adalah permintaan dari UKM yang bergerak di bidang tanaman hias. Sementara untuk dalam Kota Makassar, permintaan masih didominasi oleh pembelian indivudu.

Dukung UKM

Kehadiran Galeri Anggrek juga turut mendukung berkembangnya UKM yang bergerak di bidang penjualan tanaman hias. Syamsul Mamma, misalnya, pemilik usaha tanaman hias Kumikohanaya ini mengaku cukup terbantu dengan hadirnya Galeri Anggrek Unhas.

Ancu, sapaan akrabnya, mengatakan sebelumnya ia selalu mendatangkan anggrek dari Jawa untuk memenuhi pesanan konsumennya. Kini dengan hadirnya Galeri Anggrek, tanaman cukup diambil dari Makassar, dengan harga yang cukup bersaing. Tanpa perlu lagi mengeluarkan biaya transportasi yang cukup besar, margin keuntungan yang diperoleh Ancu menjadi lebih besar.

“Bekerja sama dengan Galeri Anggrek, kami telah mengirim anggrek hingga ke wilayah Sulawesi Barat,” kata alumni Fakultas Pertanian Unhas ini.

Ancu juga membenarkan selama masa pandemi, penjualan anggrek justru meningkat pesat.“Ratusan pot bisa habis hanya dalam satu minggu,” ujarnya. (Rls)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan