Kesehatan Jiwa Masih Jadi Isu Marjinal

pixabay.com

FAJAR.CO.ID, CIANJUR – Pembina Yayasan Rumah Pulih Jiwa, Aliet Sojariah menilai persoalan kesehatan jiwa di Indonesia, khususnya di Kabupaten Cianjur masih menjadi isu marjinal.

“Khususnya tentang kesehatan jiwa seringnya diselimuti mitos, yang tak jarang menghasilkan stigma dan diskriminasi tak berkesudahan bagi ODGJ,” kata dia kepada wartawan disela-sela menggelar aksi ‘Gerakan Memanusiakan Manusia’ di Bundaran Tugu Lampu Gentur, Sabtu (10/10/2020). Aksi ini memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia setiap 10 Oktober.

Aliet menuturkan, masyarakat masih sering menganggap orang dengan gangguan jiwa sebagai individu yang tidak mampu berpikir rasional, sulit diajak bicara dan membahayakan masyarakat atau kerap berbuat onar. Selain stigma, kata dia, orang dengan ODGJ juga sering mengalami kekerasan.

“Temuan Yayasan Rumah Pulih Jiwa menunjukkan setidaknya terdapat 159 orang dengan disabilitas psikososial mengalami kekerasan. Bentuk kekerasannya pun beragam dan dampaknya begitu mengkhawatirkan. Dampaknya antara lain pengucilan, pelecehan seksual dan bullying yang menyebabkan penelantaran, pengamanan paksa, hingga pemasungan,” tuturnya seperti dikutip dari Sukabumi Ekspres (Fajar Indonesia Network Grup).

Ia mengatakan, meski pemerintah telah berkomitmen menciptakan Indonesia bebas pasung, nyatanya angka kekerasan berupa pasung masih menjadi yang tertinggi. Di tahun 2020 juga menemukan bahwa terdapat korban pasung sebanyak 35,2 persen, di mana 6 kasus di antaranya merupakan kasus pemasungan anak-anak.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...