Tidak Ada Imbauan di Lokasi Demo hingga Buat Dosen Ini Jadi Korban Salah Tangkap

Dosen UMI, Andri Mamonto (tengah) yang jadi korban kekerasan dan salah tangkap polisi saat demo UU Cipta Kerja di Makassar. (ishak/fajar.co.id)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Andri Mamonto merasa kesal dengan oknum polisi yang menangkap dirinya. Dia dikira terlibat saat unjuk rasa penolakan UU Cipta Kerja yang berakhir bentrok pada Kamis, (8/10/2020) lalu.

Sebelum dia jadi korban salah tangkap, dosen muda berusia 27 tahun ini mengaku sama sekali tidak mendengar himbauan untuk bubar dari polisi dari aksi unjuk rasa yang mulai memanas.

Andri pun dengan tenangnya tetap melanjutkan aktifitasnya, dengan membeli makanan di sekitaran lokasi aksi, Jalan Urip Simohardjo.

“Tidak ada himbauan saya dengar,” singkatnya kepada wartawan, Senin (12/10/2020).

Menanggapi hal itu, Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Ibrahim Tompo, menepis pernyataan dosen asal kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini.

Pihaknya sudah mengerahkan mobil pengeras suara di lokasi aksi. Bahkan mobil yang sudah dilengkapi dengan speaker besar itu, kata Ibrahim, tidak mungkin tidak didengar oleh masyarakat. Termasuk para massa aksi.

Kata dia, pengeras suara itu bisa didengar hingga dua kilometer. Mustahil bagi siapa pun yang masuk dalam radius itu tidak mendengar himbauan tersebut.

“Kami menyemprotkan water cannon kepada pendemo anarkis itu. Lalu ditembakkan gas air mata dan kita melakukan penguraian terhadap massa yang ada di situ,” pungkasnya.

Selain pakai mobil pengeras suara, pihaknya menggunakan berbagai cara apapun agar massa aksi dan warga sekitar untuk bisa membubarkan diri.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...