Pohon Sepang Jaga Satwa Endemik dari Kepunahan

Yudho Wibowo, Operation Head DPPU Hasanuddin (tengah) bersama pegawai Pemkab Gowa dan unsur Muspida, serta tokoh masyarakat melakukan penanaman bibit pohon sepang di Rumah Hijau Denassa (RHD), Selasa, 22 September 2020 lalu. Program ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem bagi satwa endemik.

YUSRIADI

MASYARAKAT Sulawesi Selatan (Sulsel) sangat akrab dengan kayu sepang. Sayangnya, meski pernah meminum hasil seduhan dari kayu berkhasiat obat tersebut, tidak banyak yang pernah melihat langsung pohonnya.

Sejak sepuluh tahun lalu, Darmawan Denassa mulai membudidayakan sepang. Ia menanam di sekitar rumahnya yang memang sudah lama fokus melestarikan tanaman endemik. Lahan miliknya itu diberi nama Rumah Hijau Denassa (RHD).

RHD berada di Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Di sana bukan profit yang diutamakan, melainkan ketulusan menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati. Terutama flora dan fauna khas atau endemik.

Sepang memang bukan tanaman endemik Sulsel, namun akrab dengan budaya dan tradisi Bugis-Makassar. Sayangnya populasinya sudah sangat kurang. Pohonnya kini susah ditemui.

Sepang yang memiliki nama latin Caesalpinia Sappan Linn ini oleh masyarakat Sulsel disebut sappang. Di Jawa dikenal dengan sebutan secang. Digunakan sebagai ramuan herbal tradisional.

Kayu sepang dipercaya memiliki khasiat menyegarkan darah, memperbaiki siklus menstruasi, serta pereda nyeri dan bengkak. Sebagian besar manfaat kayu sepang sebagai obat tradisional, khususnya mengatasi kondisi yang berkaitan dengan darah.

Dalam sebuah jurnal ilmiah yang ditulis Ramdana Sari dan Suhartati, dari Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar, sepang disebutkan sebagai jenis tumbuhan herbal yang digunakan oleh masyarakat sebagai campuran air minum sehari-hari. Serpihan batang sepang dimasukkan ke dalam air minum, menjadikan air berwarna kemerahan.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...