Penghitungan Data Ketenagakerjaan Dinilai Mudah, Ini Penjelasan BPS Sulsel

Diskusi BPS Sulsel di redaksi FAJAR.

FAJAR.CO.ID,MAKASSAR– Pada umumnya untuk mengetahui presentase nilai inflasi, angka kemiskinan, gini ratio (kesenjangan) dan pertumbuhan ekonomi berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) di lapangan, harus melalui rumus perhitungan yang sudah ditentukan dan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Lantaran, akurasi data dan fenomena menjadi salah satu alasan BPS untuk mempublikasikan rilis terbarunya.

Kepala BPS Sulsel, Yos Rusdiansyah mengatakan pihaknya menghitung data secara makro, sementara di beberapa lembaga atau instansi lain melakukan penghitungan data secara mikro.

“Makanya kadang hasil yang dikeluarkan BPS dan lembaga misalnya Dinas Sosial tentang data kemiskinan itu berbeda. Karena kami secara global dan Dinsos lebih spesifik,” kata Yos.

Kendati sulit karena rumus dan data yang harus dikumpulkan dari kabupaten kota, nampaknya hal itu tidak berlaku untuk sektor ketenagakerjaan. Staf Tenaga Fungsional BPS Sulsel, Papintana membenarkan hal tersebut.

Menurutnya untuk mengetahui angka pengangguran di Sulawesi Selatan cukup mudah dan simpel. Hanya dengan melihat dan memahami arti, fungsi dan tujuan dari diagram ketenagakerjaan.

Seperti penduduk yang terbagi atas dua kategori usia yakni usia kerja dan usia bukan kerja. Kemudian, usia kerja juga dibagi menjadi dua yaitu angkatan kerja dan bukan angkatan kerja hingga sampai ke tingkat pengangguran sesuai persepsi BPS.

“Usia kerja itu dari umur 15-65 tahun, kalau di atas 65 sudah masuk kategori bukan usia kerja. Sedangkan angkatan kerja adalah penduduk yang bekerja dan menganggur, kalau yang bukan pendudukan angkatan kerja yakni IRT, lansia dan anak sekolah,” ucapnya, Kamis (15/10/2020).

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...