Jalan Panjang Benda-benda Bersejarah Indonesia di Belanda untuk Pulang

Minggu, 18 Oktober 2020 12:21

SENJATA DARI JAWA: Berbagai senjata dari Perang Jawa 1825-1830 di Museum Bronbeek, Arnhem, Belanda. Sealin milik Pangeran Diponegoro, juga ada senjata Kiai Mojo dan Sentot Alibasah. (ADRIAN PERKASA FOR JAWA POS)

Senada dengan Fitra, Bonnie juga menggarisbawahi bahwa kandungan ilmu pengetahuan lebih penting daripada nilai suatu barang bersejarah secara nominal. Dengan adanya aktivitas penggalian ilmu pengetahuan tersebut, lanjut Bonnie yang juga terlibat dalam pemulangan keris Kiai Nogo Siluman, Indonesia tidak sebatas menjadi pemburu harta karun. Layaknya sekuel film Indiana Jones.

Yang prosesnya paling sulit, kata Margana, barang-barang hasil jarahan. ’’Barang-barang yang statusnya rumit ini biasanya emas, permata, atau yang punya nilai material tinggi,’’ jelas Margana.

Dari pengalaman Margana, ada identifikasi yang panjang untuk setiap barang yang hendak dikembalikan ke Indonesia. Misalnya, surat-menyurat. Jika barang-barang yang diberikan raja-raja berbagai kawasan Indonesia dimaksudkan sebagai hadiah, biasanya ada arsip lengkap.

’’Kurator-kurator museum di Belanda galak-galak karena benda-benda dari Nusantara umumnya punya daya magnet kuat,’’ katanya.

Persoalannya, Belanda belum punya data lengkap benda-benda bersejarah yang mereka bawa dari tanah jajahan. Itu belum bicara biaya perawatan yang umumnya mahal.

Karena itu, kata Margana, repatriasi kalau berjalan mulus sebenarnya membantu pemerintah Belanda. Hanya, masalahnya, yang akan menerima pengembalian barang apakah juga sudah menyiapkan fasilitas dan biayanya? (JPC)

Bagikan berita ini:
10
2
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar