Waktu Pacaran Sabarnya Selangit, Setelah Nikah Kasarnya Bikin Sakit

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: JUJUK KHARISMA)

FAJAR.CO.ID — Ingat ya, pernikahan itu tidak seperti masa pacaran. Yang semuanya tampak indah. Jadi, siapkan mental sebaik mungkin sebelum memutuskan untuk menikah.

Kalimat pembuka di atas bukan untuk menakut-nakuti, ya. Justru untuk mengingatkan bahwa masing-masing kita harus benar-benar siap lahir dan batin jika ingin menikah. Supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti yang dialami Donwori, 28, dan Karin, 26.

Keduanya pacaran sudah cukup lama. Sejak awal kuliah hingga lulus dan masing-masing mendapatkan pekerjaan yang layak.

Selama pacaran, Karin mengakui jika Donwori adalah pria yang pantas mendapatkan acungan dua jempol. Bahkan, kalau ada jempol-jempol yang lain, Donwori sangat layak untuk menerima acungannya.

Selain ganteng dan gagah, Donwori juga baik, penyabar, penyayang, pengertian, humble, tidak gampang marah, setia serta tidak pelit. Pokoknya, semua hal baik ada di Donwori. “Ya, karena saking baiknya itu saya mau dinikahi,” kata Karin.

Tapi kebaikan itu ternyata hanya bertahan di satu tahun pernikahan saja. Masuk tahun kedua, semua mulai terkikis. Semakin bertambah usia pernikahan, kian hilang.

Donwori mulai sering marah, mulai perhitungan, mulai gak sabaran, kasar dan seterusnya. “Bener-benar bikin heran. Dia seperti bukan orang yang tak kenal. Banyak yang berubah,” lanjutnya.

Tapi, Karin hadapi semua itu dengan kepala tegak. Karena ia merasa bahwa Donwori adalah laki-laki pilihannya. “Risiko ditanggung penumpang,” sambungnya dengan muka sinis.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...