BEM SI Beri Ultimatum Jokowi, Mantan Aktivis 98 Sampai Terharu

Ribuan mahasiswa melakukan demonstrasi menolak UU Cipta Kerja di Patung Kuda, Jakarta Pusat, Selasa (20/10). (Sabik Aji Taufan/ JawaPos.com)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Mantan aktivis 1998, Haris Rusly Moti mengaku bangga dengan pergerakan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) dalam menolak UU Ciptaker.

“Sobat, gak sanggup berkata-kata, saking terharunya dengan pernyataan berikut. Selamat datang angkatan gerakan mahasiswa 2020,” tulis Haris di akun Twitternya, sambil menautkan tautan berita soal ultimatum BEM SI ke Presiden Jokowi, Selasa (20/10/2020).

Tak sampai di situ, Haris menyebut apa yang dilakukan mahasiswa bersama buruh hari ini mirip dengan aksi 1998.

“Sobat, saya yg terharu dengan perjuangan mahasiswa & buruh. Selain unjukrasa, saya berharap lahirnya pandangan & perdebatan intelektual di kampus-kampus untuk menjawab kejahatan REZIM SATU PERSEN yg kangkangi aspirasi 99 PERSEN RAKYAT yg dianggap bebek. Angkatan 28, 45, 66, 74, 78 hingga 98 punya produk intelektual.,” Ungkapnya.

Sebelumnya, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) mengeluarkan ultimatum kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Mereka menuntut Jokowi segera membuat Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) untuk menganulir Omnibus Law Undang-undang Cipta Kerja.

“Mendesak presiden untuk segera membuat Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang membatalkan Undang-Undang Cipta Kerja tersebut” ujar Koordinator BEM SI Remy Hastian di Patung Kuda, Jakarta Pusat, Selasa (20/10).

Remy mengatakan, ultimatum ini harus dilaksanakan oleh Jokowi maksimal 8×24 jam. Apabila setelah batas waktu tersebut Perppu tidak diterbitka, maka mahasiswa akan membuatal gerakan lebih besar.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar