J3K, Jurus Cinta Gojek di Tengah Pandemi

Rabu, 21 Oktober 2020 10:50

Posko Aman Gojek/dok

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR—PT Aplikasi Karya Anak Bangsa menunjukkan cinta mereka pada negeri, pelanggan, dan mitra di tengah perang besar melawan Covid-19. Bukan hanya berkomitmen memutus mata rantai penyebaran virus, namun juga menempatkan diri sebagai yang terdepan dalam usaha pemulihan ekonomi.

Untuk memerangi penyebaran Covid-19, PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau yang lebih dikenal dengan Gojek meluncurkan program bernama J3K (Jaga Kesehatan, Kebersihan, dan Keamanan). Program ini menjadi upaya Gojek menghadapi tantangan agar bisa tetap menjadi andalan masyarakat di tengah pandemi.

Dengan mengedepankan aspek kesehatan, kebersihan, dan keamanan, Gojek ingin menghadirkan rasa aman dan nyaman, serta memastikan seluruh ekosistem termasuk mitra dan pelanggan bisa beraktivitas dan menjalani keseharian tanpa harus merasa khawatir terpapar virus.

Di Makassar, program J3K diperkenalkan lewat kampanye lokal bernama “Aman di New Normal”. Gojek sebagai salah satu platform digital terbesar di Asia Tenggara menerapkan J3K ini hampir di seluruh layanan yang mereka jalankan di Kota Daeng.

“Aplikasi Gojek sebagai karya anak bangsa memiliki semangat membantu Pemprov Sulsel dan Pemkot Makassar. Kita selalu keluar dengan berbagai inovasi demi membantu menurunkan angka penyebaran Covid-19. Ini bentuk cinta negeri dari kami. Kami Ingin membantu pemerintah,” kata District Head Gojek Makassar, Adwin Pratama Anas, Selasa, 20 Oktober.

Menurut Adwin, pemerintah tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri menghadapi pademi ini. Apalagi, Sulsel, khususnya Makassar sempat menjadi salah satu wilayah yang masuk zona merah. “Kita mesti bareng-bareng memutus mata rantai Covid-19,” ujarnya.

Adwin menjelaskan, Gojek memiliki Posko Aman J3K di SPBU Jl. Sultan Alauddin dan Lapangan Parkir Begos Jl. Perintis Kemerdekaan. Selain memberikan edukasi, Posko Aman ini juga memfasilitasi penerapan protokol J3K. Mulai dari pengukuran suhu tubuh mitra, pemberian disinfektan pada kendaraan, helm, jaket, hingga tas GoFood.

Posko Aman ini wajib dikunjungi seluruh mitra Gojek. “Jadi, Gojek yang beroperasi dipastikan sudah melewati standar protokol kesehatan. Para mitra harus mengunjungi Posko Aman sekali dalam dua hari untuk pengecekan suhu badan dan pemberian disinfektan. Semua yang di jalan-jalan itu sudah melalui Posko Aman ini. Yang tidak, tidak akan bisa beroperasi,” tegas Adwin.

Terkait pengecekan status verifikasi suhu tubuh mitra driver dan kebersihan kendaraan, bisa langsung dilakukan dengan melihat Profil Driver Gojek di aplikasi setelah pemesanan layanan GoCar. Fitur sama tersedia juga pada layanan GoRide, GoFood, hingga GoSend. Ini terobosan baru dan yang pertama di Indonesia.

Setelah memastikan mitra melewati standar protokol kesehatan, Gojek dengan layanan GoRide atau GoCar berusaha memberikan perlindungan tambahan. Dalam hal ini, Gojek menghadirkan Alat Perlindungan Driver GoRide berupa Sekat Pelindung dan J3K Shield pada helm mitra driver untuk layanan roda dua serta Sekat Pelindung pada layanan GoCar.

“Untuk motor, sekarang kita fokus ke penggunaan face shield yang lebih efektif. Khusus roda empat, hampir seluruhnya sudah menerapkan prosedur yang kita buat. Kita pentingkan impact Gojek ke masyarakat. Makanya, hampir 100 persen kendaraan roda empat Gojek sudah menggunakan sekat,” katanya.

Upaya Gojek memberi rasa aman dan nyaman kepada pelanggan serta mitra mereka mendapat apresiasi positif dari masyarakat. Khusus layanan GoCar, seorang pelanggan, Eka Sari mengatakan, ia selalu menggunakan layanan Gojek bersama keluarganya karena ada jaminan keamanan dan kenyamanan selama dalam perjalanan. Dengan berbagai fasilitas Gojek, ia mengaku tidak perlu khawatir akan terpapar virus korona.

“Baru-baru ini saya ke Panakkukang Mall bersama anak-anak saya dengan layanan GoCar. Di pintu mobil, itu sudah ada hand sanitizer dan ada masker yang disiapkan. Ketika turun dan akan membayar, kita tidak bersentuhan langsung dengan driver. Jadi, benar-benar aman. Kalau mobil lain, saya kadang cemas,” kata warga BTP Blok AD tersebut.

Fauziah, warga kompleks Griya Alam Permai juga mengacungkan jempol untuk Gojek. Meski memiliki kendaraan sendiri, Fauziah mengaku menjadikan Gojek sebagai alternatif transportasi ketika bepergian. “Lebih aman,” kata Fauziah.

Prosedur jaga keamanan juga dioptimalkan untuk layanan lain, seperti GoFood. Mulai dari hadirnya layanan bagi pelanggan yang ingin mengambil sendiri pesanan di outlet mitra, sampai pada pengantaran tanpa kontak fisik dengan opsi teks pesan cepat pada fitur Chat di dalam pesanan antara pelanggan-mitra driver. Ini juga berlaku untuk GoSend, GoShop, serta GoMart. “Layanan lain Gojek, seperti GoFood, semuanya terlindungi,” ujar Eka.

Tak hanya dalam layanan transportasi mereka, Gojek juga menceburkan diri hingga ke pasar-pasar untuk membantu pemerintah menghambat penyebaran Covid-19.  Bahkan, kolaborasi mereka dengan pemerintah menjadi yang terbaik kedua di Indonesia.

“Kita memiliki program GoShop dan GoSend bekerjasama Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Kita berkolaborasi. Namanya Baruga Pasar. Proyek percontohannya di Pasar Pabaeng-baeng. Untuk program ini, kita juara dua secara nasional dalam lomba inovasi New Normal yang digelar Kementerian Dalam Negeri beberapa waktu lalu,” beber Adwin.

Gojek juga melakukan kerjasama dengan PD Pasar Makassar. Kolaborasi ini untuk pasar-pasar tradisional. Di setiap pasar tradisional, menurut Adwin ada sekat pelindung yang memisahkan penjual dengan pembeli. “Ada juga GoMart. Kolaborasi dengan Alfa Mart. Sekarang sudah bisa diakses lewat GoMart,” ujarnya.

Sejumlah program tak ketinggalan diluncurkan Gojek untuk membantu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Inisiatif ini dilakukan Gojek sebagai bentuk kontribusi nyata mereka dalam menggerakkan kembali perekonomian di Sulsel.

Pada level provinsi, Gojek bekerja sama dengan Dinas Koperasi & UMKM Sulsel. Mereka membina UMKM yang belum berjualan secara online. Kebanyakan penjual di UMKM kata Adwin masih konvensional sehingga pendapatan mereka menurun drastis sejak Covid-19 mewabah.

“Sejak Covid-19 melanda, penjualan mereka relatif berkurang. Makanya, kami menawarkan akses berjualan online. Gojek memberi pelatihan dan mengajak mereka, ayo masuk online. Market pasti lebih luas. Kami juga bekerjasama dengan Dinas Pariwisata, contohnya merchant GoFood di Lazuna Chicken,” ungkap Adwin.

Adwin berharap, semua program yang diluncurkan Gojek, khususnya di tengah pandemi bisa membantu pemerintah, pelanggan, serta mitra. “Kita tidak boleh terpuruk secara ekonomi. Di Sulsel, khususnya di Makassar, kita tidak menginginkan hal tersebut. Ayo kita bersama-sama memutus mata rantai Covid-19 sambil menggerakkan kembali perekonomian dari sisi UMKM dan mitra Gojek,” tegasnya.

Mitra Gojek sendiri sudah terbukti memberi dampak dan kontribusi perekonomian serta PDRB kota Makassar. Di tahun 2018, kontribusi mitra Gojek pada perekonomian Makassar mencapai Rp1,7 triliun.  Angka ini berasal dari selisih pendapatan mitra dari sebelum hingga setelah mereka bergabung di Gojek.

Sementara pada penelitian terbaru yang dilaksanakan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) memperlihatkan kontribusi mitra Gojek pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Makassar di tahun 2019 mencapai Rp4,8 triliun atau turut menggerakkan 3% PDRB Makassar.

Jika dihitung menggunakan metode nilai tambah ke perekonomian Makassar, salah satu peneliti LD FEB UI, Turro S. Wongkaren, Ph.d, menyebut Gojek memberikan tambahan sebanyak Rp4,6 triliun ke perekonomian Kota Makassar di tahun 2019.

Dalam riset bertajuk “Peran Ekosistem Digital Gojek di Ekonomi Indonesia Sebelum dan Saat Pandemi COVID-19″ itu terungkap bahwa tahun lalu, UMKM di Kota Makasar mengalami  peningkatan omzet sebesar 35% setelah mereka menjadi mitra GoFood.

Sejak bergabung dengan Gojek, omzet social sellers GoSend juga meningkat 10%, dan omzet UMKM GoPay meningkat 18%. Selain itu 78% UMKM GoFood juga mengalami peningkatan volume transaksi dan 98% dari  mereka mendapatkan pelanggan baru.

Para pelaku usaha menurut riset itu cukup realistis melihat dampak panjang dari pandemi yang saat ini sedang terjadi. Meski demikian, mereka optimis usaha mereka dapat tetap tumbuh dan penghasilan mereka kembali seperti sebelum pandemi dengan berada dalam suatu ekosistem digital.

LD FEB UI juga menemukan fakta bahwa Gojek masih menjadi andalan pelanggan untuk adaptasi kebiasaan baru. Penelitian itu mengungkapkan bahwa mayoritas pelanggan (93%), menganggap keamanan layanan Gojek lebih baik dari standar industri. Mayoritas dari pelanggan (86%) juga merasa aplikasi Gojek telah membantu beradaptasi dengan kebiasaan baru dan mendukung mereka tetap produktif selama pandemi.

Temuan menarik lainnya, mayoritas pelanggan menjadi lebih sering menggunakan layanan-layanan Gojek dibandingkan sebelum masa pandemi. Konsumen yang menggunakan layanan GoFood (65%), GoPay (68%), Paylater (57%) dan GoSend (36%), naik dibandingkan sebelum pandemi.

Persepsi konsumen yang positif membuat pelanggan semakin loyal terhadap platform. Mayoritas pelanggan (90%) menganggap kualitas hidupnya lebih baik dengan adanya Gojek sehingga akan tetap menggunakan Gojek dan tidak beralih ke aplikasi lainnya (94%) sekaligus merekomendasikan kepada teman serta kerabat (96%).

“Kalau layanan transportasi, selama pandemi Covid-19 ini pasti sangat terdampak. Misalnya akibat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Makassar, anak sekolah terpaksa libur atau pekerja harus bekerja dari rumah. Namun, layanan lain meningkat. Misalnya yang terkait makanan, pengantaran barang, serta penjualan online. GoSend dan GoFood meningkat. Tak kalah penting, UMKM sangat terbantu dengan keberadaan Gojek,” kata Adwin. (amr)

Bagikan berita ini:
10
4
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar