Sidang Lanjutan Kasus Jerinx SID, Dua Saksi Ahli Buat Jaksa tak Berkutik

Kamis, 22 Oktober 2020 19:47

SAKSI AHLI : Saksi ahli bahasa, Jiwa Atmaja, dalam sidang kasus Jerinx di PN Denpasar. (SUHARNANTO/BALI EXPRESS)

FAJAR.CO.ID, DENPASAR- Dua orang saksi ahli, masing-masing ahli bahasa dan hukum pidana, dihadirkan tim pembela I Gede Ari Astina alias Jerinx pada sidang lanjutan di PN Denpasar, Kamis (22/10). Ketut Jiwa Atmaja, ahli bahasa yang diperiksa duluan mengupas habis makna kalimat postingan Jerinx yang membawanya ke kursi pesakitan.

Pensiunan dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia Unud tersebut menerangkan, untuk memahami bahasa, harus sampai kepada dimensi komponen mental yang menganalisis bagaimana maksud dari pengguna bahasa itu sendiri.

“Jadi adakah niat Jerinx melakukan ujaran kebencian atau tidak. Maka kita harus lihat posisi Jerinx sebagai penyair dan penulis lirik, yang punya ragam diksi khusus yang berbeda dengan yang lain,”sambung saksi di depan majelis hakim pimpinan IA Adnya Dewi.

Hal tersebut, kata saksi, tidak dilihat oleh jaksa dan lainnya, bahwa seorang penulis lirik atau penyair punya diksi berbeda dari orang lain. Diksi yang digunakan menyebabkan adanya arti kata yang berbeda dari arti leksikal.

Jika kata ‘kacung’ dan ‘menyerang’ yang digunakan Jerinx dalam postingannya punya konotasi buruk di kamus, tetapi bagi diksi penyair, tidak. “Kata ‘saya tidak akan berhenti menyerang sampai ada penjelasan tentang ini’ itu tidak punya kekuatan menyerang. Kata menyerang, maksudnya tidak akan berhenti bertanya hingga pertanyaannya dijawab,”tegasnya

Seorang penyair, jurnalis ataupun penulis lirik, sengaja menggunakan pilihan kata khusus dengan harapan kata itu punya tenaga untuk menarik perhatian umum, bukan bermaksud buruk.

Postingan di medsos, menurut saksi, sebagai ungkapan ekspresi. Bahasa medsos sendiri tidak memiliki norma atau aturan sendiri. Orang bisa bebas menulis apa saja, asal tidak ada subyek yang dituju. “Dan bahasa di medsos itu akan menciptakan ragam bahasa baru, ” pungkas saksi.

Tim jaksa yang dikoordinatori Otong Hendra Rahayu sempat menyangkal. Ia mengatakan ada normanya di medsos. “Kalau gitu ajari saya,” jawab saksi dengan nada tinggi.

Sementara, saksi ahli hukum pidana, Hery Firmansyah dari Untar Jakarta mengatakan, pelapor Putra Suteja tidak memiliki legal standing melaporkan perkara ini. Sebab, yang dituju adalah PB IDI Pusat bukan IDI Daerah Bali.

“Dalam hukum pidana tidak mengenal surat kuasa sebagai pelapor. Surat kuasa iti hanya dikenal di huk um perdata. Jadi seharusnya yang melapor PB IDI,” terang saksi.(bx/har/man/JPR)

Komentar