Beda Pilihan Politik dengan ‘Teman Ranjang’, Ujian Loyalitas Kader Terhadap Institusinya

Jumat, 23 Oktober 2020 16:51

Ilustrasi politik ranjang. (dok JPNN)

“Sebagai kader partai politik tertentu, tentu saja setiap kader dituntut untuk mematuhi kebijakan partainya termasuk mendukung pasangan atau kandidat yang ditetapkan oleh partai politik secara institusi,” katanya kepada fajar.co.id, Jumat (23/10/2020).

Ia kembali menjelaskan, hal ini tentu menjadi salah satu ujian loyalitas kader terhadap institusinya, dan diyakini tokoh-tokoh tersebut menyadari betul konsekuensi institusional tersebut sehingga mestinya mereka sejak awal sudah dapat menempatkan diri.

“Bahwa kemudian ada aspek pribadi di dalamnya, maka hal tersebut tentu akan menjadi urusan internal para kader tersebut atau tokoh tersebut. Apakah mereka akan tunduk pada partainya sebagai kosekuensi logis formal sebagai kader atau akan menempatkan diri dalam konteks aspek sosiologis,” urainya.

Jika pun ada aspek sosiologis yang memberi pengaruh maka hampir pasti hal tersebut tidak akan berada di permukaan, karena pada saat ini setiap kader tentu ingin menunjukkan loyalitasnya pada partainya masing-masing.

Lalu pertanyaannya, apakah para tokoh sentral ini memilih pasif atau diam dalam mensosialisasikan paslon usungan partainya?

Menurut pengamatan Sukri, mereka bukan justru pasif tapi cenderung bermain di belakang layar atau menjadi king maker dalam proses pemenangan kandidat.

“Hal ini saya kira juga bagian dari upaya para tokoh ini untuk dapat menjaga aspek etika politiknya dalam persaingan di Pilkada,” tandasnya.

Komentar


VIDEO TERKINI