Kebakaran Gedung Kejagung, Pejabat Kejaksaan Ikut Terseret

Petugas kepolisian membuka garis polisi yang terpasang di area Gedung Kejaksaan Agung RI yang terbakar, Jakarta, Kamis (17/9/2020). Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri menyimpulkan bahwa sumber api dalam kebakaran yang melalap Gedung Utama Kejaksaan Agung bukan disebabkan hubungan pendek arus listrik. Hal itu disimpulkan dari olah tempat kejadian perkara (TKP) sebanyak enam kali oleh Puslabfor, Pusinafis, penyidik Bareskrim Polri, Polda Metro Jaya, dan Polres Jakarta Selatan. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Bareskrim Polri menetapkan delapan tersangka kasus kebakaran gedung Kejaksaan Agung (Kejagung). Mereka dianggap lalai hingga mengakibatkan gedung tersebut ludes dilalap api pada 22 Agustus lalu.

Delapan tersangka itu terdiri atas lima pekerja proyek renovasi aula Kejagung berinisial T, H, S, K, dan IS. Lalu, mandor proyek berinisial UAM, Direktur Utama PT ARM berinisial R, dan pejabat pembuat komitmen (PPK) Kejagung berinisial NH.

Direktur Tindak Pidana Umum (Dirpidum) Bareskrim Brigjen Ferdy Sambo menuturkan, penyelidikan dan penyidikan dilakukan selama 63 hari. Sebanyak 64 saksi telah diperiksa. Selanjutnya, terdapat sejumlah keterangan ahli dan bantuan menggunakan satelit untuk melihat asal titik api.

”Kesimpulan sementara, kebakaran itu terjadi akibat aktivitas lima tukang yang merokok saat bekerja,” tuturnya. Lima pekerja tersebut diduga membuang puntung rokok yang masih menyala secara sembarangan. Padahal, di lokasi proyek terdapat bahan-bahan yang mudah terbakar. ”Diduga, rokok itu menyulut api yang lebih besar,” terangnya dalam konferensi pers kemarin (23/10).

Dia menerangkan, dalam proses penyidikan, memang ada yang mempertanyakan apakah rokok bisa memicu api yang besar. Polisi lantas melibatkan beberapa ahli untuk melakukan percobaan.

”Dari percobaan diketahui bahwa rokok itu menjadi bara. Ada dua yang memicu api itu, yakni bara dan penyulut api,” terangnya.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar