Kasus Dosen jadi Korban Salah Tangkap Belum Temui Titik Terang

Dosen UMI, Andri Mamonto (tengah) yang jadi korban kekerasan dan salah tangkap polisi saat demo UU Cipta Kerja di Makassar. (ishak/fajar.co.id)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Kasus dugaan salah tangkap yang dialami Andri Mamonto, 27 tahun sampai saat ini belum ada titik terang.

Apalagi, korban yang merupakan dosen dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ini, telah bersurat ke Komnas HAM dan ditujukan kepada Polda Sulsel untuk ditindaklanjuti.

Surat itu bernomor 1142/K-PMT/X/2020 diterbitkan Komnas HAM pada 15 Oktober 2020 dan ditujukan ke Kapolda Sulsel, Irjen Pol Merdisyam. Sampai hari ini, polisi masih melakukan pendalaman.

“Kami sedang melakukan upaya-upaya penyelidikan, yang kita lakukan upaya penindakan hukum terhadap upaya investigasi,” kata Irjen Merdisyam kepada wartawan, Senin (26/10/2020).

Dosen muda ini meminta bantuan kepada Komnas HAM RI, lalu bersurat ke Polda Sulsel untuk mengusut dugaan kekerasan yang dialami oleh dirinya, saat bentrok di Jalan Urip Sumohardjo, pada Kamis (8/10/2020) lalu.

Andri mengaku, saat itu dia hanya ingin membeli makanan dan mengurus beberapa berkas, di depan kampus Unibos Makassar yang menyangkut soal aktifitas mengajarnya sebagai dosen.

Namun Andri sadar, bahwa saat itu di jalan tersebut sedang terjadi bentrok dan beberapa kali terdengar suara tembakan gas air mata ke massa aksi yang anarkis.

Polisi pun datang dan menangkap siapa saja yang dicurigai terlibat dalam aksi bentrok, yang merupakan buntut dari pengesahan UU Cipta Kerja atau Omnibus Law.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar