Kampanye Kreatif dan Pemimpin Inovatif

Selasa, 27 Oktober 2020 23:51

oleh Fadli Noor

Ketua DPW Partai Solidaritas Indonesia Sulsel

Sampai hari ini masa kampanye Pilkada 2020 telah memasuki hari ke-31 sejak dimulainya pada 26/09/2020 lalu. Di Makassar terdapat empat kandidat yang berkompetisi untuk menjadi pasangan walikota dan wakil walikota yang memulai proses komunikasinya dengan penggunaan tagline ataupun akronim sebagai alat identifikasi yaitu Ramdhan Pomanto dan Fatmawati Rusdi dengan Adama, Munafri Arifuddin dan Abd Rahman Bando dengan Appi-Rahman, Syamsu Rizal dan Fadli Ananda dengan Dilan, serta Irman Yasin Limpo dan A Zunnun Halid dengan Imun.

Kampanye pilkada kali ini sangat berbeda dengan pilkada tahun-tahun sebelumnya. Kondisi pandemi Covid-19 yang membuat pilkada diundur bahkan nyaris ditunda hingga pandemi ini ditangani dengan baik akhirnya dapat memulai tahapan dengan aturan yang sangat ketat. PKPU 13/2020 yang mengatur Pilkada Dalam Kondisi Covid-19 adalah jalan tengah agar kedaulatan rakyat melalui pilkada dapat terakomodir demikian pula dengan hak kesehatan dan keselamatan warga yang terancam pandemi ini. Sebagai jalan tengah tentu menghasilkan berbagai kompromi termasuk berbagai larangan yang sebelumnya tak pernah dibatasi dalam pilkada sebelumnya.

Pasal 58 PKPU 13/2020 bahkan dimulai dengan menyebut agar pertemuan tatap muka mengutamakan penggunaan media daring. Jika tidak dapat dilakukan melalui media daring baru kemudian boleh dilakukan melalui pertemuan fisik dengan beragam pembatasan yang tentu saja bertujuan untuk penerapan protokol kesehatan terkait Covid-19 ini. Pilkada kali ini menantang kandidat untuk melakukan kampanye kreatif agar seluruh gagasan politik dapat didistribusikan kepada warga. Kampanye kreatif akan menunjukkan bagaimana kandidat memahami pandemi ini dan menyesuaikan seluruh aktifitasnya dengan tetap menjaga kesehatan dan keselamatan warga. Tidak berlebihan Mendagri Tito Karnavian menyebut bahwa pilkada kali ini adalah momentum mencari pemimpin yang paham menangani pandemi (Fajar, 22/06/2020).

Kampanye menurut Rogers & Storey (1987) adalah rangkaian tindakan komunikasi terencana untuk menciptakan efek tertentu pada masyarakat yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu. Kampanye kreatif di masa pandemi Covid-19 adalah kegiatan kreatif yang mampu mengeksekusi seluruh tindakan komunikasi tanpa melanggar protokol kesehatan di masa Covid-19 ini. Lebih kreatif lagi jika kampanye pilkada justru mengakomodir upaya-upaya terkait penanganan pandemi Covid-19 ini.

Kreatifitas Kandidat

Pada Pilkada Kota Makassar semua kandidat nampaknya tetap melakukan kampanye konvensional dengan tatap muka terbatas secara langsung, blusukan serta menebar baliho dan APK lainnya. Namun dari keempat kandidat tersebut, hanya pasangan Appi-Rahman yang menciptakan beragam kreatifitas kampanye yang unik dan masif sehingga tak mampu diikuti oleh kandidat lainnya.

Pasangan Appi-Rahman sejak mendeklarasikan diri sebagai kandidat langsung menerjunkan ratusan duta sehat yang merupakan pekerja freelancer event yang terpaksa kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid ini. Mereka berkeliling kota menjumpai warga untuk mensosialisasikan protokol kesehatan, membagikan masker serta hand sanitizer. Kegiatan masif yang mereka lakukan membuat warga menjadi lebih paham ancama pandemi ini dan membangun kebiasaan menggunakan masker dan mencuci tangan. Selain itu, mereka juga menurunkan satgas kesehatan yang bertugas menyemprotkan disinfektan pada sarana publik termasuk angkutan umum. Kandidat ini juga telah melayani lebih dari seribu orang relawannya untuk melakukan uji swab secara cuma-cuma. Pasangan ini bahkan adalah satu-satunya kandidat yang menyiapkan wisma isolasi mandiri bagi mereka yang terpapar Covid-19. Kreatifitas kampanye Appi-Rahman ini langsung menyasar inti benak audience di saat Makassar masih berada di zona merah Covid-19. Pandemi ini adalah momok bagi semua orang dan tidak mengenal usia, status sosial, profesi maupun tingkat pendidikan. Semua warga menerima aktifitas ini.

Kandidat ini juga merajai media sosial. Appi-Rahman memanfaatkan semua platform media sosial untuk menyampaikan gagasan politiknya. Facebook, Instagram, Youtube bahkan TikTok pun mereka gunakan dengan penyesuaian konten sesuai demografi pengguna masing-masing platform. Bahkan pasangan Appi-Rahman menjadi satu-satunya kandidat di Indonesia yang melakukan kampanye tatap muka dan interaktif kepada lebih dari dua ribu orang dalam satu sesi kampanye. Mereka menyiapkan studio kampanye dan dipancarkan pada puluhan titik nonton bareng secara live dan interaktif. Di setiap titik nonton mereka hanya menyiapkan kursi untuk lima puluh orang warga dengan penerapan protokol kesehatan. Kreatifitas luar biasa ini adalah metode kampanye paling efektif menjangkau orang banyak dalam satu masa.

Pemimpin Inovatif

Revolusi industri 4.0 telah mengubah banyak hal di dunia yang membuat beragam kehidupan sosial kita menjadi disruptif. Belum sempat kita menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan yang sangat cepat tersebut pandemi Covid-19 melanda dunia termasuk Makassar. Resesi, inflasi, pengangguran, kemiskinan dan perubahan postur APBD menjadi tantangan walikota nanti. Mumford, M., & Licuanan, B. (2004) telah mengingatkan bahwa untuk beradaptasi dengan perubahan baru, kebutuhan akan inovasi dalam organisasi telah menghasilkan fokus baru pada peran pemimpin dalam membentuk sifat dan keberhasilan upaya kreatif.

Kepemimpinan inovatif dari setiap kandidat Pilwali Makassar dapat kita lihat dari bagaimana mereka menciptakan kampanye kreatif sebagaimana Poonam Anand dan Arvind Kumar Saraswati (2014) menyebut bahwa pemimpin inovatif adalah pemikir kreatif yang mampu menghasilkan ide-ide kreatif yang menjadi dasar inovasi.

Pandemi Covid-19 masih belum jelas kapan dapat dikendalikan dengan baik, sementara dampak sosial ekonominya akan menjadi tanggung jawab walikota terpilih. Komitmen para kandidat terhadap pengendalian Covid-19 dan pemulihan dampak sosial ekonominya harus menjadi pertimbangan warga dalam memutuskan pilihannya. Komitmen kandidat dapat dilihat dari apa yang telah dilakukan selama masa kampanye sebagaimana falsafah leluhur kita, taro ada taro gau.

Komentar