Prof Ahmad Zahro ke Pengurus NU: Jangan Baper, Pemimpin Harus Bisa Menerima Kritik Sepahit Apa Pun

Rabu, 28 Oktober 2020 19:21

Prof Ahmad Zahro. (int)

FAJAR.CO.ID — Film pendek yang diputar di NU Channel untuk memperingati Hari Santri mengundang kontroversi. Mustasyar Komite Khittah Nahdlatul Ulama 1926, Prof Ahmad Zahro, menyesalkan pembuatan film berjudul “My Flag: Merah Putih versus Radikalisme” tersebut.

Menurut Ahmad Zahro, langkah tersebut kurang tepat. Peringatan Hari Santri bisa dilakukan dengan cara lain tanpa menimbulkan kontroversi.

“Sebenarnya kalau ingin memperingati Hari Santri yang benar itu, lomba membaca kitab, lomba pidato atau ceramah, lomba menghafal ayat Al-Qur’an. Itu ciri khas pesantren yang mulai agak tergusur. Membaca kitab itu kan ruhnya pesantren,” kata Prof Zahro dalam kanal Hersubeno Arief di YouTube. Dia melanjutkan, ceramah atau pidato itu kehebatan kiai.

Semua kiai tidak mungkin tak bisa ceramah. Kalau tidak bisa ceramah berarti bukan kiai benaran. “Mestinya itu, bukan dengan membuat film My Flag,” cetusnya.

Meski begitu, dia memahami itu hak para pembuat film tetapi harusnya menyadari bahwa niat baik kadang-kadang juga bisa berefek buruk, termasuk kontroversi film My Flag.

Banyak respons negatif yang mengkritisi film tersebut di media sosial dan cukup menimbulkan keriuhan. Kalau sudah riuh, lanjutnya, nama besar NU tercoreng. Seolah-olah NU itu tidak menghargai perempuan bercadar, padahal kan tidak begitu.

“Saya sependapat dengan pernyataan salah satu tokoh bahwa NU itu enggak salah apa-apa, yang salah itu yang mengurus NU. Jadi NU jangan disalah-salahkan dan jangan dihina,” ucapnya.

Komentar