Kembalikan Kejayaan Sutera di Wajo, Pemkab Godok Pengembangan Hulu hingga Hilir

Kamis, 29 Oktober 2020 13:40

Pengrajin secara teliti menenun kain sutera di Kabupaten Wajo. (FOTO: IMAN SETIAWAN P/FAJAR)

FAJAR.CO.ID, SENGKANG — Kabupaten Wajo dikenal sebagai Kota Sutera. Namun sekarang julukan tersebut sedikit redup. Pemkab Wajo kini berusaha mengembangkan kejayaan itu.

Bupati Wajo Amran Mahmud mengaku, bahan baku kini menjadi problem dihadapi oleh pengrajin sutera. Maka dari sejumlah program sinergitas dengan Pemprov Sulsel sudah dijalankan.

Tujuannya untuk membangkitkan kembali kejayaan sutera di Wajo. Yakni, penanaman sejuta pohon murbei.

Lokasi tanaman murbei ini berada Desa Watanrumpia – Botto Penno Kecamatan Majauleng, Desa Wajoriaja Kecamatan Tanasitolo dan Desa Pasaka Sabbangparu

“Melalui Dinas Kehutanan Sulsel dialokasikan bibit tanaman murbei tahun ini sudah dilakukan. Watanrumpia dan Wajoriaja,” ujarnya..

Dengan program tersebut, sutera bisa dikembangkan dari hulu ke hilir. Sehingga pengrajin tidak kesulitan lagi dalam penyediaan bahan baku.

Ketua Sutera Silk Center (SSC) Wajo, Kurnia Syam menceritakan, produksi kain sutera seperti kain kristal sudah menjadi primadona di Jawa sejak tahun 1998.

“Sebenarnya sutera kita sampai di luar negeri. Cuma kain sutera kita dibuat jadi kain batik oleh rumah produksi di Jawa. Baru di impor ke negara tetangga, Singapura dan Malaysia,” ujarnya, Selasa, 27 Oktober.

Namun tiga tahun terakhir pemasarannya sedikit tersendat dan ditengah pandemi Covid-19 tahun ini. Sebab produksi bahan baku benang sutera sulit dijumpai di Wajo. Kini, hanya mengandalkan bahan baku lokal dari Soppeng dan impor dari China.

Komentar