Kondisi Terkini di Prancis, Status Darurat Tingkat Tinggi Diberlakukan, Tentara Penuhi Jalanan

Sabtu, 31 Oktober 2020 12:21

Polisi berjaga di Paris, Prancis, 3/10/2019. Foto: ANTARA/REUTERS/Christian Hartmann/tm

Moratinos menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ketegangan dan contoh intoleransi yang dipicu oleh majalah mingguan Prancis Charlie Hebdo yang menerbitkan karikatur satire yang menggambarkan Nabi Muhammad.

“Karikatur yang menghasut juga telah memprovokasi tindakan kekerasan terhadap warga sipil yang tidak bersalah, yang diserang karena agama, kepercayaan atau etnik mereka,” kata Moratinos.

Moratinos menggarisbawahi, bahwa penghinaan terhadap agama dan simbol-simbol suci agama telah memprovokasi kebencian dan ekstremisme kekerasan. Kondisi itu pada gilirannya mengarah pada polarisasi dan fragmentasi masyarakat.

Moratinos pun menegaskan, bahwa kebebasan berekspresi harus dilakukan dengan cara yang sepenuhnya menghormati keyakinan agama dan prinsip semua agama.

“Tindakan kekerasan tidak dapat dan tidak boleh dikaitkan dengan agama, kebangsaan, peradaban, atau kelompok etnik apa pun,” ujarnya.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei menilai, mengenai dukungan Presiden Prancis terhadap penerbitan kartun Nabi Muhammad sebagai tindakan bodoh dan penghinaan bagi Islam.

Ali Khamenei sangat menyayangkan ucapan Macron yang justru melindungi aktivitas penistaan agama. Dalam Islam, menyamakan Nabi Muhammad dengan gambar makhluk apapun merupakan bentuk penistaan. Dia menyebut langkah Macron sebagai tindakan bodoh serta berpotensi memicu perpecahan.

“Tanyakan presiden Anda mengapa mendukung penghinaan terhadap utusan Tuhan atas nama kebebasan berekspresi. Apakah kebebasan berekspresi berarti menghina, terutama orang suci?,” kata Khamenei dikutip dari France24.

Bagikan berita ini:
8
9
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar