Kondisi Terkini di Prancis, Status Darurat Tingkat Tinggi Diberlakukan, Tentara Penuhi Jalanan

Sabtu, 31 Oktober 2020 12:21

Polisi berjaga di Paris, Prancis, 3/10/2019. Foto: ANTARA/REUTERS/Christian Hartmann/tm

“Bukankah tindakan bodoh ini merupakan penghinaan terhadap alasan orang-orang yang memilihnya?,” lanjutnya.

Pernyataan Khamenei sejalan dengan sikap pemerintah Iran yang melontarkan kecaman dan kritik terhadap Macron serta gerakan anti-Islam di Prancis.

Presiden Iran, Hassan Rouhani mengeluarkan peringatan keras kepada Prancis. Dia mengatakan, sikap Macron dan gerakan anti-Islam berpotensi memicu kekerasan serta pertumpahan darah jika tidak segera dihentikan.

Macron menjadi sorotan setelah menyatakan, bahwa ia tak melarang Charlie Hebdo menerbitkan kartun Nabi Muhammad. Ia juga mengatakan Islam adalah “agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia.”

Macron melontarkan pernyataan ini sebagai respons atas pemenggalan guru yang membahas karikatur Nabi di Charlie Hebdo, Samuel Paty (47), di Eragny, oleh pendatang dari Chechnya, Abdoullakh Abouyezidovitch (18).

Dapat disampaikan, bahwa penyerangan di sekitar Gereja Notre Dame Basilica, Nice, Prancis bermula pada pukul 8:29 waktu Prancis ketika seorang pria dengan pisau mulai menyerang orang-orang yang sedang berdoa di dalam Basilika Notre-Dame, di jantung kota Mediterania.

Berdasarkan keterangan Jaksa anti-teror Prancis, Jean-Francois Ricard, pelaku membawa salinan Al Quran serta tiga pisau.

Hanya sekitar 30 menit, pelaku menggunakan pisau berukuran 30 cm untuk memotong tenggorokan wanita berusia 60 tahun dan membuatnya meninggal di dalam gereja.

Tak hanya itu, seorang pria berusia 55 tahun yang merupakan pegawai gereja turut menjadi korban setelah jenazahnya ditemukan di dalam gereja. Ia ditemukan dengan kondisi mengenaskan, tenggorokannya turut digorok.

Bagikan berita ini:
3
6
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar