Pilihan Presiden Prancis, Minta Maaf atau Diboikot

Sabtu, 31 Oktober 2020 11:58

Presiden Prancis Emmanuel Macron. Foto AP

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Seruan boikot produk Perancis sudah disuarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sejumlah ormas Islam di tanah air, diantaranya Ikatan Da’i Indonesia (Ikadi). Seruan ini diharapkan menjadi efek jera bagi Perancis.

Anggota Komisi I DPR RI Toriq Hidayat mendukung seruan tersebut. Dengan mendukung dan menjalankan seruan MUI tersebut, menegaskan bahwa seruan MUI dan ormas-ormas islam tentang pemboikotan produk Prancis, juga untuk menunjukkan kecintaan umat islam terhadap Nabi Muhammad.

“Pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang kartun Nabi Muhammad SAW dapat menyulut permusuhan. Alasan kebebasan berpendapat yang dilontarkan Macron itu tidak bisa diterima,” tegas Toriq.

Menurutnya, jika ada umat Islam yang melakukan tindak kekerasan, jangan hanya mereka yang disalahkan. Karena itu merupakan dampak dari pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron sendiri.

“Dalam melihat setiap masalah yang terkait dengan umat Islam, negara-negara barat tidak berlaku adil dan jujur. Karena biasanya mereka hanya melihat apa yang terjadi dan enggan mencari akar penyebab mengapa hal itu terjadi,” ujarnya.

Ia menegaskan Emmanuel Macron harus mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada umat Islam untuk menghindari semakin besar gerakan perlawanan umat islam.

“Saya yakin jika dia mau meminta maaf atas sikap dan tindakannya tersebut, maka umat Islam pasti akan memaafkannya sehingga api permusuhan yang sudah menyala akan bisa padam secepatnya,” tegas Toriq.

Politisi PKS ini akan mendesak pemerintah Indonesia agar mengambil sikap tegas dan langkah diplomatik konkrit, bahkan kalau perlu memulangkan Duta Besar Prancis.

Terpisah, MUI mengajak pemboikotan terhadap produk Prancis karena Macron yang masih bersikeras tidak meminta maaf kepada umat Islam atas pelecehannya terhadap Nabi Muhammad.

Wakil Ketua Umum MUI KH Muhyiddin Junaidi meminta untuk memboikot semua produk yang berasal dari negara Prancis serta mendesak kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan tekanan dan peringatan keras kepada Pemerintah Prancis.

Ia meminta Pemerintah Indonesia untuk sementara waktu menarik Duta Besar Indonesia di Paris, Prancis, hingga Presiden Macron menarik ucapannya dan meminta maaf kepada umat Islam se-dunia yang melontarkan pernyataan bernada “Islamophobia”.

Muhyiddin mengatakan umat Islam tidak ingin mencari musuh tetapi hanya ingin hidup berdampingan secara damai dan harmonis.

Ia juga meminta Presiden Prancis segera menghentikan segala tindakan penghinaan dan pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW, terlebih Komisi HAM PBB menyebut penghinaan terhadap Rasulullah bukanlah bentuk kebebasan berekspresi.

Ia juga mendukung sikap Organisasi Kerja sama Islam (OKI) yang telah memboikot produk-produk dari Prancis. (khf/fin)

SPONSORSHIP

Komentar


VIDEO TERKINI