Mulai Populer, Ikan Cichlid Miliki Corak Warna Khas, Bikin Jatuh Cinta Pehobi

Minggu, 1 November 2020 20:39
Belum ada gambar

ILUSTRASI. (int)

FAJAR.CO.ID — Bagi masyarakat kebanyakan, ikan cichlid belum sepopuler cupang, guppy, koi, atau arwana. Mengeja namanya saja belum tentu benar.

Namun, beberapa tahun belakangan, peminat ikan asli perairan tawar Afrika ini sangat ramai.

Berdasar garis keturunannya, cichlid (baca: siklid) masuk dalam famili Cichlidae. Nah, beberapa sumber menyatakan bahwa cichlid memiliki sekitar 2.000 spesies. Banyak kan?

Meski jenisnya ribuan, setiap varian punya corak warna yang khas. Bahkan, perbedaannya bisa sangat kontras antara satu jenis dan lainnya.

Saat ini cichlid menjadi salah satu ikan hias air tawar paling populer di dunia penghobi. Menurut salah seorang pencinta cichlid asal Surabaya, Adi Prasetyo, ikan itu memiliki daya tarik tersendiri. Terlebih pada bentuk tubuh ikan dewasanya yang proporsional. Tidak terlalu kecil, tetapi juga tidak terlalu besar. Ragam corak warna dan motif pada tubuhnya menjadi pesona tersendiri.

“Nggak tahu ya, saya kok cinta banget sama ikan ini. Padahal, sebelumnya saya juga pelihara ikan (hias yang lain, Red),” kata pria yang memelihara cichlid sejak 2019 tersebut. Bisa dibilang, Adi langsung jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat cichlid di akuarium temannya.

Setahunan lalu, Adi mengunjungi rumah salah seorang rekannya. Di sanalah perjumpaan dia dengan cichlid kali pertama terjadi. Adi langsung betah berlama-lama memandangi ikan berwarna-warni dengan berbagai corak di tubuhnya itu aktif berkeliling akuarium.

”Warna tubuhnya itu lho, hidup. Apalagi saat ditimpa cahaya lampu LED putih dan biru,” ungkap pemilik akun Instagram @cichlid.surabaya tersebut. Selepas pulang dari rumah temannya itu, Adi langsung memutuskan untuk memelihara cichlid.

Dia mengungkapkan, cichlid cukup agresif jika dibandingkan dengan jenis ikan lain dari famili Cichlidae. Wajar saja. Sebab, cichlid merupakan ikan teritorial. Meski begitu, cichlid termasuk ikan air tawar yang mudah beradaptasi dengan berbagai kondisi air dan suhu. Bahkan jika harus hidup di lingkungan air berkadar garam tinggi, tingkat oksigen rendah, atau sungai beraliran deras. ”Termasuk (ikan) cerdas. Tahu waktunya makan atau tidak,” jelasnya.

Pria asli Surabaya itu sempat menunjukkan 22 jenis ikan dari tiga spesies cichlid miliknya. Di antaranya, aulonocara atau peacock, mbuna, dan hap. Tiga jenis itu, kata Adi, tersebar di kawasan Afrika dan Amerika. Namun, mayoritas ikan miliknya berasal dari Afrika. Yakni, dari tiga danau di sana seperti Danau Malawi, Tanganyika, dan Victoria.

Meski bentuk tubuh dan corak warnanya mirip antara satu dan yang lain, Adi tidak sulit membedakan tiga jenis cichlid miliknya. Aulonocara terlihat dari corak warnanya yang kuat. Tampak kontras dengan warna dasar tubuhnya. Di ekornya, terdapat motif menyerupai batik.

Lalu, jenis hap memiliki bentuk tubuh lebih besar dan mulutnya tampak lebar. Mbuna punya corak warna di tubuhnya seperti zebra. Postur tubuhnya juga lebih memanjang.

Cichlid dari tiga danau di Benua Afrika lebih mudah dipelihara ketimbang yang berasal dari Amerika. Sebab, selain tangguh, ia tidak terlalu rewel untuk urusan makanan.

Adi cukup memberikan pakan pelet untuk ikan-ikannya. Sesekali saja chiclid diberi cacing beku atau kombinasi keduanya. ”Pagi pelet, siang cacing beku, malam pelet lagi,” terangnya.

Agar tidak kegemukan, Adi juga menyusun jadwal puasa untuk ikan-ikannya setiap Senin. ”Semingu sekali juga diberi semangka dan timun untuk asupan seratnya,” jelasnya.

Dia menjelaskan, jadwal puasa diperlukan untuk membentuk tubuh yang proporsional. Sebab, ikan tersebut termasuk hobi makan.

Ada hal yang membuat ikan chiclid menarik untuk dipelajari. Yaitu, nama-namanya yang panjang dan lumayan sulit disebutkan. Misalnya, salah satu ikan milik Adi yang bermarga cichlid protomelas venustus dari jenis hap.

Ada juga cichlid protomelas spilonotus tanzania yang juga dari jenis hap. Lalu, orange blotched peacock yellow dan pink dari jenis aulonocora. Masih ada lagi cichlid stuartgranti blue neon dari jenis aulonocora. Cichlid protomelas steveni Taiwan reef dari jenis hap. Atau, cichlid jacobfreibergi red eureka dari jenis aulonocora.

Nama-nama itu didapat dari ilmuwan dan peneliti yang menemukan ikan tersebut. Atau, dari nama daerah ikan itu ditemukan. ”Awalnya, pasti sulit menyebutnya. Tapi, itulah ciri khasnya dan nggak buat bosen,” ungkapnya.

Kurang satu jenis lagi dari golongan hap yang sedang diincar Adi. Namanya lethrinops red cap itungi. Tubuhnya kuning. Coraknya zebra. Kepalanya merah. Siripnya batik.

“Kalau ada itu, makin apik lagi. Makanya, nggak pernah bosan main cichlid. Soalnya, banyak jenis yang bisa dieksplorasi,” tandas pria 32 tahun tersebut. (JPC)

Bagikan berita ini:
1
5
5
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar